hubungan zat besi dan produktifitas kerja


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Zat besi merupakan salah satu mineral esensial yang penting untuk tubuh manusia yang berfungsi untuk eritropoiesis, metabolisme oksidatif, dan respon imun selular. Zat besi pertama kali diketahui sebagai salah satu konstituen jaringan tubuh pada tahun 1713 dan terdistribusi dalam tubuh seperti pada hemoglobin, mioglobin, cadangan besi, besi transport, cadangan besi, dan feritin serum.

            Tubuh manusia membutuhkan zat besi rata-rata 15-20 mg per hari. Zat besi diketahui memilki pengaruh dalam melakukan aktifitas fisik karena zat besi merupakan  salah satu komponen dalam pembentukan hemoglobin dan mioglobin. Menurunnya kadar zat besi dalam tubuh dapat menyebabkan penurunan produktivitas kerja maupun penurunan persentase kekuatan otot dan daya tahan terhadap keletihan.

            Produktivitas kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya latar belakang pendidikan dan latihan, alat-alat produksi dan teknologi, nilai-nilai atau pranata sosial masyarakat, iklim kerja, derajat kesehatan dan gizi,  tingkat minimal upah yang berlaku, umur, pengalaman kerja, dan rendahnya motivasi.

1.2 Tujuan penulisan

Tujuan penulisan makalah ini antara lain :

  1. Mengidentifikasi hubungan anemia defisiensi zat besi dan produktifitas kerja dari pekerja.
  2. Dampak dari anemia defisiensi besi terhadap produktivitas kerja.

1.3 Rumusan Masalah

Pembahasan dalam makalah ini mencakup masalah :

  1. Anemia defisiensi besi dan produktifitas kerja yang rendah dari seorang pekerja ?
  2. Bagaimana mekanisme anemia defisiensi besi terhadap produktivitas kerja ?

BAB II

PEMBAHASAN

           Gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja seseorang. Keadaan gizi yang baik merupakan  pemicu peningkatan produktivitas kerja, meningkatkan ketahanan fisik, meningkatkan derajat kesehatan pekerja sehingga dapat mengurangi angka kesakitan dan ketidakhadiran bekerja. Seorang pekerja yang mempunyai status gizi yang baik akan memiliki kapasitas dan ketahanan tubuh yang lebih baik yang menunjang produktivitas kerja.

           Defisiensi besi merupakan defisiensi yang paling umum yang terjadi karena daya serap tubuh yang rendah terhadap Fe. Menurut Widayani, 2004 defisiensi besi dapat berakibat menurunkan produktivitas dan kapasitas fisik saat bekerja dan menurunkan imunitas selular dan meningkatkan kesakitan pada seseorang. Kekurangan zat besi mengakibatkan menurunnya 10-30% produktivitas dari pekerja yang sehat.

           Pada wanita dewasa anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah sakit, meurunkan produktivitas kerja, anemia dapat menurunkan sumber daya manusia, menurunkan kebugaran. Pekerja yang mebutuhkan tenaga besar dengan keadaan anemia hasil kerjanya akan rendah sehingga produktivitas kerjanya menurun. Ketahanan dan kemampuan tubuh untuk melakukan pekerjaan dengan produktivitas yang memadai akan lebih baik dipunyai oleh individu dengan tidak anemia (Wirakusumah, 1999).

           Para peyadap getah yang tidak menderita anemia memiliki produktivitas 20% lebih tinggi dari pada yang menderita anemia (Karyadi, 1984). Berdasarkan observasi tahun 1966-1967 bahwa banyak tenaga yang absen karena sakit dimana 3-8% tenaga kerja yang absen setiap harinya karena sakit, hal ini dapat menurunkan produktivitas perusahaan (Suma’mur, 1995).

           Menurut De Maeyer, 1993 bahwa akibat defisiensi zat gzi besi pada orang dewasa pria dan wanita mengakibatkan : penurunan kerja fisik dan daya pendapatan; penurunan daya tahan terhadap keletihan. Anemia gizi besi dapat menyebabkan tenaga berkurang sehingga pekerja yang membutuhkan tenaga besar akan merasa cepat lelah. Hal ini akan berpengaruh terhadap hasil kerja yang rendah karena produktivitas kerja yang menurun.

           Hasil penelitian di daerah perkebunan karet, Sukabumi, menunjukkan bahwa penyadap karet yang anemia mendapatkan lateks hasil sadapan lebih sedikit daripada penyadap yang tidak anemia. Penyadap lateks 18,7% lebih rendah daripada yang tidak anemia, lebi sering istirahat dan cepat lelah (Basta, 1979).

           Anemia diperkirakan diderita oleh 25% populasi dunia dan 50% adalah kasus karena anemia defisiensi zat besi. Anemia defisiensi zat besi menyebabkan rendahnya kadar Hb sehingga berakibat pada kelemahan, kelelahan dan berefek pada sistem imun. (Martin Falkingham et al, 2010).

           Gejala dypsnea dan kelelahan sering minimal pada individu dengan anemia. Ini terjadi karena penurunan oksigen arterial yang berhubungan dengan rendahnya kadar Hb. Gejala ini tidak muncul sampai kadar Hb turun dibawah 7 g/dl, walaupun dalam keadaan stressfull seperti latihan atau olahraga. Walaupun penyesuaian terus berlanjut, anemia defisiensi besi kronik menyebabkan kondisi kerja yang rendah pada manusia dan hewan. (Brian J Koziol et al, 1982).

           Bahwa suplementasi besi meningkatkan adaptasi terhadap kapasitas kerja yang maksimal dan ketahanan fisik setelah latihan otot. Ditemukan interaksi antara konsentrasi serum transferin reseptor (sTrR) dan perawatan dengan suplementasi zat besi dalam meningkatkan kapasitas kerja dan ketahanan fisik. Ini menunjukkan bahwa konsentrasi sTrR dan suplementasi zat besi bisa meningkatkan VO2 maksimum. (Thomas Brownlie et al, 2004).

           Dilaporkan bahwa IDA bisa mengurangi produktivitas pekerja. Defisiensi besi dapat mengganggu fungsi dan berdampak pada EE (energy expenditure/pengeluaran energi) yang berlebih selama bekerja pada pekerja tekstil di Cina. Setelah suplementasi besi dilakukan, HR (heart rate) dan EE (energy expenditure) berkurang dan PE (production efficiency) meningkat. (Rouwei Li et al, 1994).

           IDA bisa menurunkan produktivitas kerja yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi. The Asian Development Bank (ADB)-UNICEF bahwa rendahnya pendapatan Asia diperkirakan karena rendahnya produktivitas kerja dari pekerja adalah 9% untuk pekerja kerdil, 17% untuk pekerja berat dan 5% untuk pekerja yang aktif. Sebesar 4% disebabkan karena anemia defisiensi besi, 10% karena defisiensi iodin. (Joseph M. Hunt, 2012).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hubungan anemia defisiensi besi dengan produktifitas kerja antara lain :

–          Pada wanita dewasa anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah sakit, meurunkan produktivitas kerja, anemia dapat menurunkan sumber daya manusia, menurunkan kebugaran.

–          Anemia gizi besi dapat menyebabkan tenaga berkurang sehingga pekerja yang membutuhkan tenaga besar akan merasa cepat lelah.

–          Anemia defisiensi zat besi menyebabkan rendahnya kadar Hb sehingga berakibat pada kelemahan, kelelahan dan berefek pada sistem imun.

–          Ditemukan interaksi antara konsentrasi serum transferin reseptor (sTrR) dan perawatan dengan suplementasi zat besi dalam meningkatkan kapasitas kerja dan ketahanan fisik.

–          Defisiensi besi dapat mengganggu fungsi dan berdampak pada EE (energy expenditure/pengeluaran energi) yang berlebih selama bekerja.

3.2 Saran

Untuk mengatasi penurunan produktifitas pekerja akibat defisiensi besi ada beberapa saran antara lain :

–          Untuk pekerja perhatikan pola makan yang sehat dan cukup zat besi seperti daging, hati dan sayuran dan beristirahat yang cukup bila mengalami kelelahan dalam bekerja.

–          Untuk pemilik usaha bisa lebih memperhatikan gizi pekerja, agar dapat meningkatkan produktifitas dari pabrik/tempat usaha tersebut dan berikan waktu lbur untuk pekerja minimal seminggu sekali.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agung, Iga Ari. 2008. Pengaruh Perbaikan Gizi Kesehatan terhadap Produktivitas           Kerja. (online).            (http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/2_%20naskah%20iga%20ary%20agung.pd        f,) diakses pada 5 Mei 2012.

Brian J Koziol et al. 1982. Changes in Work Tolerance Associated with Metabolic             and Physiological Adjusment to Moderate and Severe Iron Deficiency Anemia. (http://www.ajcn.org/content/36/5/830.full.pdf+html?sid=fa43aabe-            f50a-453d-a5c9-305fcdca7468). Diakses 11 Mei 2012.

Cynthia. 2010. Pengaruh Pemberian Suplemen Zat Besi terhadap Kelelahan Otot.            (online).(http://eprints.undip.ac.id/23187/1/Cynthia.pdf). diakses 8 Mei 2012.

Husaini, M,A. 1997. Gizi, Perkembangan Intelektual dan Produktivitas Kerja.       Bappenas : Jakarta.

Joseph M. Hunt. 2002. Reversing Productivity Losses from Iron Deficiency: The     Economic Case. (http://jn.nutrition.org/content/132/4/794S.full.pdf+html).    Diakses 11 Mei 2012.

Khairina, Desy. 2008.  Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi pada            Pembantu Rumah Tangga (PRT) Wanita di Perumahan Duta Indah Bekasi       Tahun 2008. (online). http://www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/122525-   S%205254-Faktor-faktor-Pendahuluan.pdf, diakses pada 5 Mei 2012.

Martin Falkingham et al. Nutrion Journal, 9:4 . 2010. The Effects of Oral Iron        Suplementation on Cognition in Older Children and Adults: A systematic       Review ang Meta-Analysis. (http://www.nutritionj.com/search/results            ?terms=iron% 20suplementation%20and%20productivity). Diakses 11 Mei            2012.

Naryati, Yanik Riani. 2004. Hubungan Anemia Defisiensi Besi dengan Produktivitas         Kerja pada Pekerja Bagian Linting PT. Djitoe ITC Surakarta. (online).   (http://eprints.undip.ac.id). Diakses 8 Mei 2012.

Oppusunggu, Riris. 2009. Pengaruh Pemberian Tablet Tambahan Darah (Fe)      Terhadap Produktivitas Kerja Wanita Pensortir Daun Tembakau di PT. X Kabupaten  Deli Serdang. (online).            (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6889/1/09E01321.pdf).     diakses 8 Mei 2012.

R. Lyza. 2010. Hemoglobin. (online).   (http://repository.usu.ac.id /bitstream/123456789/20481/4/Chapter%20II.pdf). Diakses 8 Mei 2012

Raharjo, Bejo. 2003. Beberapa Faktor Resiko yang Berhubungan dengan Kejadian           Anemia pada pekerja Perempuan di Kelurahan Jetis, Kecamatan Sukoharjo.        (online). (http://eprints.undip.ac.id). Diakses 8 Mei 2012.

Rosyida, A. 2010. Tingkat Konsumsi Energi dan Zat Besi (Fe), Status Gizi dan      Produktivitas Kerja. (online).             (http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/27250/BAB%20II%2        0Tinjauan%20Pustaka_%20I10aro.pdf?sequence=6). Diakses 8 Mei 2012.

Rouwei Li et al. 1994. Functional Consequences of Iron Supplementation in Iron   Deficient Female Cotton Mill Workers in Beijing China. (http://www.ajcn.org /content/59/4/908.full.pdf+html?sid=6a07b2e6-214e-     4baa-8112-95790ecc46a).

      Diakses 11 Mei 2012.

Suma’mur, P.k. 1994. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. CV Haji             Masagung: Jakarta.

Thomas Brownlie IV et al. 2004. Tissue Iron Deficiency Without Anemia Impairs in          Endurance Capacity After Aerobc Training in Previously Untrained Women.    (http://www.ajcn.org/content/79/3/437.full.pdf+html?sid=fa43aabe-f50a453d-        a5c9-305fcdca7468). Diakses 11 Mei 2012.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s