hubungan gizi dan kanker


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Status nutrisi normal menggambarkan keseimbangan yang baik antara asupan yang baik antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi. Kekurangan nutrisi memberikan efek yang tidak didinginkan terhadap struktur dan fungsi hampir semua organ dan sistem tubuh. Tubuh manusia mennggunakan makanan untuk membentuk energy, memepertahankan kesehatan, pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi normal setiap organ dan jaringan tubuh.

            Kanker adalah keompok penyakit yang ditandai oleh pertumbuhan dan penyebaran sel abnormal yang tidak terkendali. Sel kanker tumbuh dengan cepat dan menyusup ke jaringan sehat disekitarnya. Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang tersebu menderita kanker. Salah satu adalah perilaku dan gaya hidup. Para ilmuwan menyatakan bhawa makanan tertentu adalah sumber kanker. Sumber kanker tersebut karena adanya zat-zat kimia tertentu dalam makanan.

            Apa yang kita makan akan mencerminkan derajat kesehatan seseorang. Makanan yang sehat akan memeberikan dampak yang positif bagi tubuh, begitu pula sebaliknya makanan yang kurang sehat yang masuk tubuh akan membawa dampak negatif pula bagi tubuh. Pola diet yang tidak sehat juga akan mempengaruhi penyakit yang akan diidap oleh seseorang. Makanan sangat diperlukan oleh tubuh untuk berbagai hal dalam menjalankan fungsi kehidupan. Zat gizi yang ada dalam makanan dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah tertentu. Kelebihan dari zat gizi akan membawa dampak yang tidak baik bagi tubuh. Salah satunya dapat menyebabkan terjadinya kanker.

1.2 Tujuan Penulisan

Makalah ini dibuat dengan beberapa tujuan yaitu :

  1. Mengetahui hubungan antara gizi dan penyakit kanker.
  2. Mengetahui jenis asupan gizi yang berdampak pada penyakit kanker.
  3. Mengetahui mekanisme kanker akibat dari makanan yang dikonsumsi seseorang.
  4. Mengetahui pencegahan yang bisa dilakukan dalam mengurangi risiko penyakit kanker.

1.3 Rumusan Masalah

1.3.1 Bagaimana hubungan gizi dan terjadinya penyakit kanker ?

1.3.2 Bagaimana mekanisme zat gizi tertentu seperti lemak dan kalsium dalam meningkatkan risiko terjadinya penyakit kanker ?

1.3.3 Pencegahan apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit kanker dari asupan gizi yang kita konsumsi ?

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

2.1 Lemak dan Penyakit Kanker

            Beberapa studi mengenai  hubungan masukan lemak dengan penyakit kanker masih memberikan hasil yang tidak taat azas, yang dimaksud dengan tidak taat azas disini adalah di beberapa kondisi lemak dapat membantu mencegah kanker bahkan mengobati kanker, namun dilain sisi lemak juga dapat menyebabkan kanker itu sendiri. Disini akan dijelaskan dua kondisi yang berkebalikan antara manfaat lemak dan bahaya lemak . 3

Pertama lemak dalam pencegahan kanker:

Pada studi yang menggunakan hewan percobaan  menunjukkan bahwa masukan lemak merupakan salah satu kunci dalam mencegah kanker. Beberapa peneliti berhasil menunjukkan hubungan antara kenaikan konsumsi lemak dan kegemukan dan kanker payudara hanya ditemukan pada usia yang lebih tua. Tampaknya bukan konsumsi total lemak yang merupakan faktor penting dalam penyakit kanker, tetapi jumlah asam lemak tak jenuh ganda dalam diet lebih berperan. Hal yang harus diperhatikan dalam mengkaji hubungan antara masukan lemak dengan kanker ialah macam lemak (lemak jenuh dibandingkan dengan lemak tak jenuh; lemak hewani dibandingkan dengan lemak nabati).

Pada studi dengan hewan cobaan, pembatasan masukan energi akan mengurangi insiden beberapa jenis kanker, dan meningkatkan umur binatang cobaan tersebut. Masukan energi total dan persen energi yang berasal dari lemak berhubungan dengan risiko kanker, akan tetapi hubungan ini bervariasi untuk jenis kanker yang berbeda. Studi yang dilakukan oleh Boissonneault dkk,1986, menemukan pengaruh energi yang berasal dari lemak terhadap kanker tergantung dari masukan energi total.

Pada kasus diet rendah lemak bebeda dengan diet tanpa lemak. Lemak adalah bagian penting dari nutrisi manusia. Terlalu banyak lemak menyebabkan kanker. Eliminasi produk-produk hewani membantu menurunkan asupan lemak kita sampai ke level yang dapat diterima. Saya harus mempelajari bedanya lemak yang baik dan lemak yang jahat (karsinogenik). Lemak menjadi tengik (busuk) segera setelah dipisahkan dari sumbernya. Lemak yang telah melalui proses pemanasan bersifat sangat karsinogenik. Lemak-lemak yang telah “dihidrogenasi” telah menjalani proses pemanasan. Minyak seharusnya tidak diproses dan ditekan suhu dingin. Minyak zaitun yang sangat murni adalah contoh jenis lemak yang baik.

Kedua lemak sebagai faktor resiko kanker :

Di lain pihak, beberapa studi menunjukkan bahwa kholesterol darah yang terlalu rendah merupakan risiko kanker. Masih perlu studi lebih lanjut untuk sampai pada kesimpulan yang pasti tentang korelasi antara masukan kholesterol dengan kholesterol darah dan kanker. Masukan lemak tidak hanya berhubungan dengan kanker tetapi juga dengan penyakit jantung, dan kegemukan.

Pada hubungan antara kanker payudara dengan makanan berlemak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diet rendah lemak membantu mencegah kanker payudara. Penelitian yang lain menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara lemak dan kanker payudara. Penelitian terakhir menyatakan bahwa yang lebih penting adalah jenis lemaknya bukan jumlah lemak yang dikonsumsi. Jenis lemak yang memicu kanker payudara adalah lemak jenuh dalam daging, mentega, makanan yang mengandung susu full-cream (whole-milk dairy foods) dan asam lemak dalam margarin. Sedangkan jenis lemak yang membantu mencegah kanker payudara adalah lemak tak-jenuh dalam minyak zaitun dan asam lemak omega-3 dalam ikan salmon dan ikan air dingin lainnya. Lemak jenuh dalam daging dan produk susu dan asam lemak dalam margarin meningkatkan kadar estrogen dalam darah, sedangkan lemak tak-jenuh dalam minyak zaitun dan asam lemak omega-3 dalam ikan tidak menyebabkan kenaikan kadar estrogen dalam darah.

Pada kasus Lipoma, lipoma adalah tumor jinak yang tumbuh dibawah kulit dan merupakan endapan lemak. Lipoma tumbuh dengan perlahan-lahan dan mudah dideteksi tangan dan disentuh oleh jari secara pelan. Lipoma dapat terjadi di bagian manapun dari badan, di mana ada sel lemak. Lipoma sering terbentuk di dalam lapisan lemak di bawah kulit. Lipoma memiliki variasi dalam ukuran, dari ukuran kacang polong sampai beberapa centimeter garis tengahnya. Lokasi yang paling umum terdapat lipoma adalah pada atas bahu, dada dan punggung, tetapi daerah lain di kulit dapat berkembang juga suatu lipoma. Orang segala usia dapat terkena lipoma, tapi lebih sering pada orang dewasa.

2.2 Kalsium dan Penyakit Kanker

            Risiko terjadinya kanker prostat ditentukan oleh dua hal yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor risiko lain yang tidak kalah penting adalah usia di atas 50 tahun, pembesaran prostat jinak, infeksi virus, riwayat kanker prostat dalam keluarga, pola hidup, dan pola makan (Widjojo, 2007). Salah satu faktor risiko tersebut yaitu pola makan, menurut Umbas Rainy (2002) diet tinggi lemak dan pola makan berkalsium tinggi merupakan faktor yang mempunyai kaitan erat dengan meningkatnya risiko kanker prostat. Hasil dari satu penelitian yang di publikasikan di majalah kedokteran The International Journal of Cancer telah mengindikasikan akan adanya kaitan antara pola makan dengan kandungan kalsium yang tinggi dengan resiko kanker prostat.

            Pada usia lanjut akan kehilangan kandungan kalsium tubuh sebanyak 30% setelah usia 50 tahun dan 80% setelah 70 tahun yang dapat meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis sehingga membutuhkan asupan kalsium yang lebih banyak daripada usia dewasa (Donatelle, 2005). Hal ini menciptakan paradigma di kalangan usia lanjut untuk mengkonsumsi kalsium dalam jumlah banyak, padahal konsumsi kalsium berlebih khususnya pada pria usia lanjut dapat meningkatkan risiko terkena kanker prostat (Astawan M, 2007). Peran kalsium dalam meningkatkan risiko kanker prostat adalah dengan mekanisme penurunan regulasi 1,25 (OH)2 vitamin D, suatu vitamin D aktif yang dapat menghambat proliferasi sel kanker prostat (Kristall A, dkk, 2002). Salah satu alternatif untuk menghambat pertumbuhan dan proliferasi sel kanker prostat adalah melalui intraprostatic conversion dari 25 (OH) vitamin D menjadi 1,25 (OH) vitamin D (Chan J dan Giovannucci E, 2001).

Peran kalsium sebagai salah satu faktor pemicu proliferasi sel kanker prostat adalah melalui penurunan regulasi 1, 25 (OH)2 vitamin D, vitamin D aktif yang menghambat proliferasi sel kanker prostat (Chan J dan Giovannucci E, 2001). Dalam hal ini, peran kalsium erat kaitannya dengan regulasi vitamin D dalam tubuh. Vitamin D merupakan zat nutrisi yang bersifat unik, baik dalam proses metabolisme atau fisiologisnya yang melibatkan banyak organ dalam tubuh maupun sumbernya yang bersifat eksogen dan endogen. Dua sumber vitamin D adalah diet dan pajanan sinar ultraviolet. Vitamin D merupakan secosteroid yang dibentuk di kulit melalui proses fotosintesis oleh sinar matahari.

Pajanan ultraviolet B sinar matahari menyebabkan konversi 7 dehidrokolesterol menjadi previtamin D3 yang kemudian akan terjadi isomerisasi termal menjadi vitamin D3 di dalam sitoplasma lapisan epidermis. Vitamin D3 selanjutnya akan keluar dari sel epidermis dan masuk ke dalam sirkulasi. Vitamin D3 selanjutnya akan ditransportasikan ke hati, demikian pula dengan vitamin D2 dan D3 yang didapat dari makanan. Dengan bantuan enzim vitamin D-25 hidroksilase mikrosom akan dibentuk vitamin D yang paling banyak bersiskulasi dalam darah, yaitu 25(OH)D. Meskipun 25(OH)D merupakan bentuk vitamin D yang paling banyak dalam sirkulasi, namun tidak aktif secara biologik. Agar menjadi aktif, 25(OH)D harus dibawa ke korteks ginjal untuk dihiroksilasi oleh enzim renal 1-alfa-hidroksilase dan terbentuk vitamin D3 aktif, yakni 1,25 dihidroksi vitamin D. Vitamin D3 aktif tersebut dianggap sebagai sebagai hormon dan memelihara homeostasis kalsium dan fosfor dengan cara meningkatkan efisiensi usus halus dalam menyerap kalsium dan fosfor, serta bekerjasama dengan PTH dalam memobilisasi kalsium dan fosfor dari tulang. Regulator utama 1,25 dihidroksi vitamin D adalah PTH, kalsium, fosfat, dan 1,25 dihidroksi vitamin D itu sendiri.

Berikut ini merupakan skema mekanisme kalsium dalam memicu kanker prostat :

 

Menurut hasil studi epidemiologi yang diterbitkan oleh The International Journal of Cancer, disebutkan bahwa konsumsi susu berkalsium tinggi yang berlebih dapat meningkatkan risiko kanker prostat (Notrou P, 2007). Dalam memicu proliferasi sel kanker prostat, peran kalsium berkaitan erat dengan metabolisme dan regulasi vitamin D. Kalsium sebagai pemicu proliferasi sel kanker prostat bekerja melalui dua jalur sekaligus. Mekanisme yang pertama, kalsium sebagai regulator 1,25 dihidroksi vitamin D. Asupan kalsium berlebih (>2000 mg/hari) (Departemen Kesehatan RI, 2005) dapat meningkatkan risiko kanker prostat melalui penurunan regulasi 1,25 dihidroksi vitamin D.

Mekanisme kedua, kalsium sebagai regulator PTH. PTH berperan dalam konversi 25(OH)D menjadi 1, 25 dihidoksi vitamin D. Aktivitas PTH diatur oleh kadar kalsium plasma. Asupan kalsium berlebih meningkatkan kadar kalsium serum yang akan mengakibatkan efek umpan balik negatif terhadap PTH. Dalam hal ini kadar PTH yang bekerja pada target organ, yaitu ginjal berkurang, akibatnya vitamin D aktif dalam sirkulasi akan berkurang (Chan J dan Giovannucci E, 2001).

Kedua mekanisme tersebut menyebabkan penurunan regulasi 1,25 dihidoksi vitamin D, vitamin D aktif yang menghambat proliferasi sel kanker prostat melalui aktivasi vitamin D binding reseptor. Setiap sel prostat, baik yang normal maupun malignan mempunyai vitamin D reseptor (VDR). Vitamin D reseptor yang diaktivasi oleh 1,25 dihidroksi vitamin D akan meningkatkan diferensiasi sel, menghambat proliferasi, angiogenesis, invasi, dan metastase. Pada keadaan dimana jumlah kalsium serum tinggi , vitamin D reseptor tidak diaktivasi oleh 1,25 dihidroksi vitamin D atau dapat diaktivasi tetapi dalam kadar yang sedikit, hal inilah yang memicu proliferasi sel kanker prostat khususnya pada pria usia lanjut dengan asupan kalsium berlebih.

2.3 Gizi and Kanker Paru-Paru

            Kanker paru-paru adalah penyakit yang paling banyak menyerang pada pria (22,2% dan insiden kanker) dan ketujuh pada wanita (3,5% dari insiden kanker) di spanyol (Carlos A, et al, 2006). Sampai tahun 1997 (AICR/ American Institute for Cancer Research) menyatakan bahwa ada bukti yang meyakinkan bahwa diet tinggi sayur dan buah (sayuran hijau dan wortel) melindungi melawan kanker paru-paru. Disisi lain asupan karotenoid, vitamin C, vitamin E dan Se melindungi melawan penyakit kanker, sementara lemak hewani menaikkan risiko kanker paru-paru (Carlos A, 2006).

2.4 Makanan dan Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang pali banyak diidap kedua di Spanyol pada Pria dan wanita. Ditemukan bukti yang meyakinkan dari American Institute for Cancer Research bahwaasupan tinggi sayur dan aktifitas fisik dapat menurunkan risiko kanker kolorektal. Alkohol dan daging merah bisa meningkatkan risiko kanker kolorektal. Asupan tinggi serat pada daging mungkin bisa menurunkan resiko namun disisi lain obesitas bisa meningkatkan risiko tersebut. Juga disimpulkan bahwa asupan kalsium tidak berhubungan dengan kanker kolorektal ( Carlos A, 2006).

2.5 Makanan dan Kanker Prostat

American Institute of Cancer Research (AICR) melaporkan bahwa tidak ada bukti yang meyakinkan kanker prostat berhubungan dengan diet. Asupan tinggi sayuran bisa menurunkan risiko kanker prostat. Lemak hewani, protein hewani dan daging merah bisa meningkatkan risiko kanker prostat. (Carlos A, 2006).

2.6 Makanan dan Kanker Payudara

Menurut American Institute of Cancer Research (AICR) konsumsi buah dan sayur dapat menurunkan risiko kanker payudara. Penggunaan alkohol dan lemak hewani dan lemak jenuh dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Konsumsi 10 gram alkohol per hari dapat meningkatkan 7% risiko dari kanker payudara (Carlos A, 2006).

2.7 Makanan dan Kanker Lambung

Menurut laporan AICR bahwa ditemukan bukti penggunaan pendingin dan diet tinggi sayura dan buah dapat melindungi dari kanker perut. Konsumsi buah dan sayur berhubungan dengan konsumsi vitamin C dan karotenoid, sayuran allium dan butir padi yang dapat menurunkan risiko kanker perut. Disisi lain konsumsi tinggi makanan yang diawetkan dengan garam dan konsumsi makanan yang dibakar dan daging barbeque dapat meningkatkan risiko kanker perut (Carlos A, 2006).

2.8 Obesitas dan Kanker

Akhir-akhir ini obesitas menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di banyak negara maju dan kota-kota di negara-negara sedang berkembang. Kenaikan berat badan menjadi penyebab berkurangnya aktifitas fisik dan merubah bentuk asupan makanannya. Menurut Internatinal Agency for Research on Cancer bahwa ditemukan bukti yang meykinkan hubungan antara obesitas dan kanker kolorektal, kanker payudara pada wanita yang sudah mengalami masa menopause, kanker ginjal, kanker endometrial dan adenocarcinoma esophagus (Carlos A, 2006).

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

 

3.2 Saran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Konsumsi Kalsium Berlebihan Naikkan Resiko Kanker Prostat.(online) (http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1815:konsumsi-kalsium-berlebihan-naikkan-resiko-kanker-prostat&catid=28&Itemid=48) diakses pada tanggal 5 Juni 2012.

Anonim.(Online).http://www.smallcrab.com/makanan-dan-gizi/872-hubungan-gizi-dan-penyakit-kanker. Diakses tanggal 5 Juni 2012.

Anonim.(Online).http://creasoft.wordpress.com/2008/04/18/15-cara-mencegah-kanker-payudara/,Diakses tanggal 5 Juni 2012.

Anonim.(Online).http://www.oocities.org/melawankanker/melawankanker/lemak.html,Diakses tanggal 5 Juni 2012.

Anonim.(Online).http://keladitikus.com/2011/03/30/mengenal-lipoma-dan-penanggulangannya/, Diakses tanggal 5 Juni 2012. 

Carlos A. Gonzales. 2006. Nutrition and Cancer: The Current Epidemiological Evidence. British Journal of Nutrition, 96, suppl 1.

Carlo La Vecchia. 2004. Mediterranean Diet and Cancer. Public Health Nutrition 7(7), 965-968.

Marian L. Neuhouser; Matt J Barnett; Alan R Cristal; Christine B Ambrosone; Irena King; Mark Tornquuist; Gary Goodman. 2007. (n-6) PUFA Increase and Dairy Foods Decrease Prostate Cancer Risk in Heavy Smokers. The Journal of Nutrition, Nutritional Epidemiolgy.

Yuyun Rindiastuti. 2007. Mekanisme Kalsium dalam Meningkatkan Risiko Kanker Prostat pada Usia Lanjut.  (online) (http://yuyunrindi.files.wordpress.com/2008/03/kanker-prostat.pdf) diakses pada tanggal 5 Juni 2012.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s