SUDUT PANDANG KESEHATAN LINGKUNGAN


issu local (pencemaran udara didaerah Watu Tugu)

Warga Tugu Keluhkan Pencemaran Udara

TUGU- Pencemaran udara di sekitar kompleks situs Watu Tugu, kembali dikeluhkan warga sekitar.Pencemaran yang berupa polusi debu, asap berbau, dan suara bising mesin itu diduga dari pabrik yang membuat split (batu pecah) dan aspal hotmix.

Di lokasi itu, memang ada tiga perusahan yaitu PT Adhikarya dan PT Muhandas Oeleong  yang bergerak pada industri pemecahan batu untuk pembuatan aspal hotmix serta PT Selo Mandiri yang hanya bergerak pada industri pemecahan batu.

Ketua RW III Kelurahan Tugurejo, Sukardi menuturkan, mestinya perusahaan di seputar situs Watu Tugu segera dipindahkan karena terbukti tak dapat mengendalikan dampak pencemaran yang merugikan warga. “Terlebih lagi, saat ini warga bersama Pemkot sedang berupaya mempromosikan Situs Watu Tugu sebagai lokasi kunjungan wisata. Kalau pabrik terus-menerus membuat polusi udara, tak mungkin masyarakat berminat datang ke situs peninggalan Hindu ini,” lanjutnya, Senin (5/7).

Menurutnya, seiring tibanya musim kemarau, dompak polusi itu semakin terasa, apalagi akhir-akhir ini perusahaan juga melakukan kegiatan malam hari. Dampak itu dirasakan hampir seluruh warga RW III. “Dampak terberat warga RT 4 dan 5. Banyak di antara mereka mengeluhkan batuk-batuk, pusing kepala, dan terganggu aktivitas sosialnya,” ujar Kardi.

Warga, terang dia, sebenarnya sudah merasakan dampak polusi sudah lama. Pada musim kemarau tahun lalu yang jatuh sekitar Juli, warga pernah melakukan demo dan beberapa kali dimediasi Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jateng, tetapi tampaknya ada tebang pilih dalam penanganan kasus pencemaran ini. Akibatnya, tahun ini masalah yang sama kembali terulang.

Ketua RT 2 RW 3 Sungatman meyakini, polusi udara itu berasal dari proses pemecahan batu dan penggorengan aspal (aspal mixing). “Pemecahan batu menghasilkan debu. Jika angin mengarah ke pemukiman warga, debu jadi ikut terbawa. Demikian juga bau dan asap yang dihasilkan dari proses penggorengan aspal, yang membuat warga sesak nafas  Sementara polusi kebisingan berasal dari beroperasinya mesin-mesin industri yang ada,” katanya.

Terkait dengan dokumen perizinan, menurutnya, tahun lalu warga pernah mendesak pihak BLH saat beraudensi di kantor BLH Jateng supaya mendesak perusahaan-perusahaan itu menunjukkan izin usaha yang dimiliki. Namun, permintaan warga itu ditolak dengan alasan kerahasiaan perusahaan. “Padahal, selama ini dari ijin HO (pendirian) saja warga tidak pernah dimintai pertimbangan, tetapi tiba-tiba pabrik muncul,” katanya. (hdq-52)

PEMBAHASAN I

Faktor Penyebab :

Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di bidang kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukung bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal.

Pencemaran atau polusi udara adalah keadaan terkontaminasinya udara oleh zat asing yang berasal dari kegiatan manusia maupun alami oleh alam. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Sumber pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dan lain-lain. Dampak dari pencemaran udara tersebut adalah menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif terhadap kesehatan manusia.

Dari artikel diatas dapat diidentifikasi faktor penyebab terjadinya pencemaran udara, antara lain dijelaskan secara lebih rinci dibawah ini :

  1. Kegiatan manusia yang memakai bahan bakar fosil dalam industry

Penggunaan bahan bakar fosil seperti batubara yang digunakan dalam banyak industry seperti yang terjadi di daerah Watu Tugu membuat banyak partikulat asing yang masuk ke udara sehingga mengakibatkan kualitas udara yang tidak baik bagi sistem pernafasan. Semakin menjamurnya industry dibanyak belahan dunia seperti yang terjadi di Watu Tugu menyebabkan warga disekitar industry tersebut mengeluhkan gangguan kesehatan. Perilaku dan gaya hidup manusia yang cenderung tegantung dengan mesin yang menggunakan bahan bakar fosil juga memberikan andil besar dalam penyumbang polutan asing ke udara.

  1. Pencemaran yang diakibatkan oleh transportasi yang semakin padat dikawasan sekitar industry tersebut

Pencemaran transportasi dan industry sebagian besar disebabkan oleh pembakaran energy minyak yang terdiri atas gas Pb, Cox, NOx, dan SOx. Konsentrasi gas-gas pencemar tersebut tergantung pada banyaknya lalu lintas, volume minyak yang dibakar dan mobilitas sumber pencemar. Padatnya lalulintas keluar masuk angkutan proyek turut andil dalam menyumbang gas cemaran disekitar kawasan Watu Tugu, sehingga tingkat kualitas udara sekitar menurun yang berdampak pada gangguan kesehatan seperti ISPA.

Penanganan atau solusi :

  1. Menggalakan penanaman pohon disekitar lingkungan pabrik dan rumah warga

Debu adalah partikel yang banyak dirasakan mengganggu akibat aktifitas pabrik tersebut. Debu terdiri atas dua ukuran suspended dust dan sedimented dust. Suspended dust adalah debu halus yang melayang-layang diudara dengan ukuran <10 mikron. Sedimented dust adalah debu yang berukuran > 10mikron yang cepat turun ke bumi karena gaya beratnya. Konsentrasi debu dapat dikurangi dengan adanya tanaman, terutama pohon. Hal ini disebabkan karena pohon memiliki luas permukaan penjerapan (adsorption) dan penyerapan (absorpsion) yang lebih luas dibandingkan dengan tanaman semak, perdu dan penutup tanah. Permukaan batang, cabang dan ranting pohon juga menjadi media penjerap yang cukup efektif. Konsentrasi debu dalam suatu lingkungan tergantung pada jumlah pohon. Semakin banyak pohon, maka semakin rendah konsentrasi debunya.

  1. Dari perusahaan tersebut harus melakukan suatu usaha yaitu menggunakan filter penyaring debu untuk membersihkan (scrubbing).

Dengan membersihkan partikel debu (scrubbing) adalah menggunakan prinsip cairan yang dapat mengendapkan debu sebelum debu tersebut melayang diudara. Scrubbing dengan menggunakan alat yang disebut srubber atau filter basah. Prinsip kerja scrubber adalah melewatkan bahan pencemar melalui larutan penyerap. Akibat adanya kontak antara bahan pencemar dengan larutan penyerap, maka akan terjadi penyerapan bahan didalam larutan tersebut sebelum debu tersebut diterbangkan oleh angin.

Pencegahan :

Sebenarnya untuk pencegahan hampir sama dengan penanganan atau solusi diatas. Hanya untuk masalah pencegahan bisa dilakukan agar hal yang lebih buruk tidak sampai terjadi. Pencegahan untuk masalah yang dihadapi oleh warga Watu Tugu seperti yang terlampir dalam artikel diatas dapat dibedakan dari 2 sudut pandang yang bisa dilakukan, antara lain :

  1. Dari warga Watu Tugu sendiri, bisa melakukan tindakan pencegahan pencemaran udara sekitar yang berupa debu dengan melakukan penanaman pohon yang banyak dilingkungan sekitar perumahan mereka. Semakin banyak pohon yang ditanam maka semakin kecil kemungkinan untuk debu tersebut mencemari udara sekitar dan kualitas udara tetap terjaga baik.
  2. Dari perusahaan Adhikarya dan Muhandas dapat melakukan usaha pencegahan agar partikel debu yang dihasilkan dari aktifitas perusahaan tidak sampai terbang terbawa angin dengan menggunakan alat filter penyaring basah (Scrubber). Dengan prinsip kerja scrubber ini dimungkinkan partikel debu akan terserap didalam larutan, sehingga tidak sampai terbang terbawa angin kelingkungan warga.

Untuk permasalahan bising yang sering dikeluhkan warga sekitar, perusahaan dapat melakukan pencegahan melalui mesin-mesin yang digunakan dengan memperhatikan kondisi mesin dan memperbaiki efisien dari mesin dengan perawatan yang benar.

issu regional (pencemaran udara karena emisi gas yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor dikawasan kota besar diseluruh Indonesia)

Sepeda Motor: Solusi atau Polusi?

PEMANASAN global belakangan ini menjadi isu yang hangat dibicarakan selain isu krisis finansial global. Pemanasan global tidak lagi menjadi tanggung jawab beberapa negara saja, namun menjadi tanggung jawab seluruh negara di dunia ini.

Pada dasarnya permasalahan lingkungan memang bukan lagi suatu masalah yang baru untuk saat ini. Terlebih lagi manusia memiliki peran yang cukup besar dalam memberikan dampak terhadap masalah lingkungan ini, karena kebutuhan hidup dan ketergantungan mereka terhadap alam sehingga mereka banyak memanfaatkan lingkungan.

Pemanasan global adalah sebuah dampak negatif dari pencemaran udara kronis. Pencemaran udara dalam hal ini dapat didefinisikan sebagai kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan mahkluk hidup, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.

Ada lima jenis polutan di udara, yaitu partikulat dengan diameter kurang dari 10 µm (PM10), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), karbon monoksida (CO) dan timbal.

Dari berbagai sektor yang potensial dalam mencemari udara, pada umumnya sektor transportasi memegang peran yang sangat besar dibandingkan dengan sektor lainnya. Kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70% di kota-kota besar.

Sektor transportasi mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap sumber energi. Seperti diketahui penggunaan energi inilah yang terutama menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Hampir semua produk energi konvensional dan rancangan motor bakar yang digunakan dalam sektor transportasi masih menyebabkan dikeluarkannya emisi pencemar ke udara. Penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak) bensin dalam motor bakar akan selalu mengeluarkan senyawa-senyawa seperti CO (karbon monoksida), THC (total hidro karbon), TSP (debu), NOx (oksida-oksida nitrogen) dan SOx (oksida-oksida sulfur). Premium yang dibubuhi TEL, akan mengeluarkan timbal.

Solar dalam motor diesel akan mengeluarkan beberapa senyawa tambahan di samping senyawa tersebut di atas, yang terutama adalah fraksi-fraksi organik seperti aldehida, PAH (Poli Alifatik Hidrokarbon), yang mempunyai dampak kesehatan yang lebih besar (karsinogenik), dibandingkan dengan senyawa-senyawa lain.

Sepeda motor tak lagi menjadi kendaraan yang langka di negeri ini. Bagi para pekerja yang tidak ingin terjebak kemacetan di kota besar, sepeda motor menjadi pilihan utama kendaraan mereka. Namun apa yang terjadi?

Sepeda motor menjadi penyebab utama kemacetan lalu lintas. Terbukti, jumlah sepeda motor di Indonesia sudah mencapai 75 persen dari total seluruh kendaraan bermesin, termasuk roda empat dan angkutan umum. Padahal, idealnya hanya 20 persen di antara seluruh moda kendaraan bermotor.

Data dari Badan Pusat Statistik Republik Indonesia menunjukkan peningkatan progresif jumlah kendaraan roda dua tersebut. Pada tahun 2006, jumlah kendaraan roda dua adalah 33.413.222 buah. Pada tahun 2007, jumlah ini bertambah menjadi 41.955.128 buah. Kemudian pada tahun 2008, jumlah sepeda motor mencapai angka 47.683.681 buah dari total jumlah kendaraan bermotor sebanyak 65.273.451 buah.

Berdasarkan data tersebut, fakta ini tentu berkorelasi linier dengan jumlah gas emisi karbon yang dihasilkan sepeda motor. Menurut data dari RETA Asian Development Bank, pada tahun 2015 diprediksikan kendaraan bermotor menghasilkan emisi gas polutan sebanyak 4.461.898 ton per tahun dengan tingkat kenaikan emisi karbon 3.68 persen tiap tahun.

Mirisnya, pada tahun 2009, dalam Copenhagen Summit, Indonesia telah meningkatkan target reduksi emisi 26 persen menjadi 41 persen tahun 2020.

Usaha untuk menurunkan angka pengguna sepeda motor, tentu tidak bisa dilakukan secara semerta-merta oleh pemerintah mengingat sepeda motor adalah kendaraan yang paling ekonomis dan paling realistis untuk digunakan oleh masyarakat yang memiliki pekerjaan dengan tuntutan mobilitas tinggi. Maka, hal yang bisa dilakukan pemerintah adalah memperhatikan kualitas bahan bakar dan ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor.

Oleh sebab itu, kebijaksanaan yang ditempuh pemerintah dalam pengendalian pencemaran udara yang salah satunya diperankan oleh emisi dari sepeda motor, adalah melaksanakan kebijakan penggunaan energi bahan bakar yang bersih bagi lingkungan hidup, pengembangan bahan bakar alternatif, penaatan ambang batas emisi kendaraan, penaatan sistem transportasi, dan peningkatan peran masyarakat. Peningkatan peran masyarakat dapat dilakukan dengan cara mengadakan lomba pengendalian emisi kendaraan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran

masyarakat untuk berperan aktif dalam menurunkan emisi gas buang dengan cara merawat kendaraannya secara teratur.

Sepeda motor, bagaimana pun juga adalah kendaraan ‘ideal’ bagi mayoritas masyarakat Indonesia dan sudah sepatutnya pemerintah lebih memperhatikan dan mengimbangi fenomena menjamurnya kendaraan sepeda motor di Indonesia dengan sigap. Jika pemerintah mampu menyusun dan melaksanakan strategi untuk menghadapi fakta ini, diharapkan akselerasi jumlah pengguna sepeda motor dari tahun ke tahun tidak akan menjadi masalah besar yang menghasilkan petaka di akhir.

ditulis oleh: Avina Anin Nasia – pada tanggal Senin, 24 Januari 2011 08:04 WIB

PEMBAHASAN II

Faktor Penyebab :

  1. Semakin banyaknya warga yang menggunakan kendaraan pribadi (sepeda motor), sehingga emisi gas yang dihasilkan semakin banyak.

Kendaraan bermotor merupakan sumber pencemar udara yang paling dinamis seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Tingkat pencemaran kendaraan bermotor tergantung bergerak atau tidaknya kendaraan bermotor tersebut. Seperti yang tersaji di artikel 2 bahwa dari tahun 2006 sampai sekarang Indonesia khususnya menunjukan peningkatan yang significan penggunaan kendaraan roda dua. Semakin banyaknya penggunaan roda dua maka semakin banyak  pula emisi gas pencemar yang dikelurkan oleh kendaraan yang semakin memperburuk pencemaran udara. Emisi gas pencemar meningkat pada saat kendaraan diperlambat atau dipercepat, sehingga dapat diketahui pada perempatan atau pertigaan jalan atau pada tempat pengatur lalulintas mempunyai konsentrasi cemaran gas yang tinggi. Demikian pula pada jalan yang menurun atau naik konsentrasi gas pencemarnya juga tinggi.

Sumber cemaran udara dalam suatu kota sangat banyak memberikan kontribusi yang beragam adalam penurunan kualitas lingkungan perkotaan. Semakin tidak bisa terkendalinya penggunan kendaraan roda dua dikota besar membuat kualitas udara di kota besar semakin buruk untuk kesehatan manusia. Sebagai contoh adalah DKI Jakarta yang saat ini menduduki peringkat tiga dunia kota yang mempunyai kualitas udara yang buruk.

Menurut Harssema (1998), pencemaran udara diawali oleh adanya emisi. Emisi merupakan jumlah pollutant (pencemar) yng dikeluarkan ke udara dalam  suatu waktu. Emisi dapat disebabkan oleh emisi alam maupun kegiatan manusia. Emisi yang disebabkan oleh alam disebut biogenic emissions, contohnya gas metan (CH4) yang timbul akibat dekomposisi bahan organic oleh bakteri pengurai. Emisi yang disebabkan oleh manusia disebut anthropogenic emissions contohnya hasil pembakaran fosil, pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara.

  1. Semakin sedikitnya pohon dan ruang terbuka hijau di kota besar.

Dengan semakin kompleksnya aktifitas manusia semakin banyak pula lahan yang diperlukan oleh manusia. Penggunaan lahan yang banyak ini harus mengorbankan banyak pohon. Dikota-kota besar banyak berdiri bangunan-bangunan dan jalan raya, sehingga ruang untuk tumbuhnya pohon sangat jarang ditemukan. Kondisi seperti ini membuat tingkat pencemaran udara yang dihasilkan dari kendaraan bermotor tidak dapat  didireduksi secara maksimal. Manfaat pohon salah satunya adalah dapat mengikat, menjerat, dan mengabsorbsi gas-gas berbahaya diudara yang dihasilkan oleh aktifitas manusia.

  1. Tidak adanya regulasi dari pemerintah dalam melarang pengoperasian kendaraan dengan emisi gas yang tidak bersih bagi lingkungan.
  2. Tidak adanya batasan khusus kepemilikan kendaraan bermotor untuk satu keluarga sebagai pengendali pencemar udara dan pengurai kepadatan lalulintas.

Penanganan dan solusi :

Berdasarkan artikel berita disurat kabar yang penulis ambil, bahwa tingkat pencemaran udara saat ini sudah mulai menunjukan dampak yang semakin meluas dan fatal bagi keberlangsungan hidup mahluk di bumi. Pencemaran udara yang hanya mencakup skala local seperti yang terjadi di Watu Tugu dan saat ini semakin meluas ke regional dan puncaknya adalah terjadinya pemanasan global. Akibat aktifitas dan gaya hidup manusia membuat kualitas udara tidak baik. Pencemaran udara tidak terlepas dari campur tangan manusia. Semakin lama pencemaran udara ini berlanjut baik yang dilakukan dalam lingkup rumah tangga maka berdampak pada efek rumah kaca yang menjadi penyebab pemanasan global.

Untuk mengurangi dan memperlambat dampak terjadinya masalah global akibat pencemaran udara yang bisa kita lakukan saat ini, antara lain :

  1. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, lebih mengutamakan penggunaan kendaraan secara bersama.

Dipandang dari segi ekonomis penggunaan kendaraan secara pribadi hanya melakukan pemborosan uang dan bahan bakar. Semakin banyak orang yang menggunakan kendaraan pribadi semakin banyak pula emisi gas cemar udara berbahaya yang dikeluarkan ke udara. Emisi gas pencemar meningkat pada saat kendaraan diperlambat atau dipercepat, sehingga dapat diketahui diperempatan jalan, pertigaan jalan, tempat yang menurun atau naik mempunyai konsentrasi cemaran udara yang tinggi.

  1. Melakukan pemeliharaan mesin kendaraan kita dan juga memberikan pandangan kita pada perusahaan pembuat kendaraan untuk merancang mesin yang mengurangi emisi gas berbahaya ke udara.

Pencemar kendaraan bermotor di kota besar semakin terasa. Pembakaran bensin dalam kendaraan bermotor merupakan lebih dari separuh penyebab polusi udara. Disamping karbon monoksida, juga dikeluarkan nitrogen oksida, belerang oksida, partikel padatan dan senyawa-senyawa fosfor timbale. Senyawa ini selalu terdapat dalam bahan bakar dan minyak pelumas mesin.  Rancangan mesin dan macam bensin menentukan akan jumlah pencemar yang ditimbulkan. Pembakaran yang sempurna memakan jumlah oksigen yang memadai dan komposisi bahan bakar yang cocok. Pembakaran tidak sempurna dapat mengahasilkan bahan pencemar seperti jelaga dan karbon monoksida, sedangkan pada pembakaran sempurna hanya dihasilkan karbondioksida. Pembakaran bensin akan lebih efisien jika mobil dilarikan dengan kecepatan yang konstan dan mengurangi frekuensi pengereman dan menstarter. Pemeliharaan mesin yang teratur akan menambah efisiensi kerja mobil atau kendaraan. Penyetelan mesin yang teratur juga menambah efisiensi kerja mesin.

  1. Membuat kawasan hutan kota dan ruang terbuka hijau di kota-kota besar.

Kendaraan bermotor merupakan sumber utama timbal yang mencemari udara didaerah perkotaan. Diperkirakan sekitar 60-70% partikel timbale diudara perkotaan berasal dari kendaraan bermotor. Berdasarkan penelitian Smith (1976) kandungan Pb dijalan sngat tergantung pada kepadatan laulintas, jarak dari sumber dan jenis pohon serta kerapatannya. Mikroorganisme serta tanah pada lantai hutan mempunyai peranan yang baik dalam menyerap karbon monoksida. Tanah dan mikroorganisme dapat menyerap karbon monoksida sebesar 120 ppm menjadi hampir mendekati nol dalam waktu 3 jam. Tanah dibawah tegakan hutan mempunyi pern besar dalam mengurangi cemaran gs CO. Disamping itu, pohon dapat menyerap cemaran hydrocarbon (HC). Kandungan HC yang diemisikan oleh pembakaran minyak dari kendaraan terserap cukup besar dalam hutan kota. Hutan kota juga merupakan penyerap gas CO2 yng cukup penting, selain dari fitoplankton, ganggang dan rumput laut disamudera.

  1. Melarang operasi kendaraan bermotor yang mengeluarkan emisi gas berbahaya yang melampaui batas dan membatasi kepemilikan kendaraan bermotor.
  2. Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan untuk penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan setiap kendaraan bermotor yang ada.

Pencegahan :

Untuk pencegahan terhadap pencemaran udara dikota besar akibat penggunaan kendaraan bermotor sebenarnya sama dengan penanganan atau solusi diatas, hanya masalah waktu saja. Berikut pencegahan yang bisa kita lakukan mulai saat ini dan seterusnya :

  1. Menggalakkan penanaman pohon dikota-kota besar sebagai kawasan hutan kota atau ruang terbuka hijau.

Manfaat adanya pohon dikota-kota besar yang syarat akan padatnya lalulintas adalah sebagai penyerap gas CO, CO2, HC maupun partikel timbal yang dihasilkan dari adanya pembakaran bahan bakar kendaraan. Selain itu adanya pohon dikota besar dapat menyerap partikel debu. Semakin banyak pohon yang ditanam dikota besar memungkinkan berkurangnya pencemaran udara.

  1. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan gunakan alat transportasi secara massal atau bersama-sama.

Penggunaan kendaraan secara bersama akan mengurangi emisi gas yang dihasilkan oleh kendaraan. Selain itu penggunaan transportasi secara bersama dapat menjadi solusi pengurai kepadatan lalulintas dikota besar. Peningkatan jumlah kendaraan dan peningkatan jumlah bilangan oktan bensin menambah pencemar timbal diudara.

  1. Bila tetap memilih menggunakan kendaraan pribadi, lakukanlah perawatan mesin kendaraan secara baik dan rutin dan pilih bahan bakar yang ramah lingkungan.

Perawatan mesin kendaraan yang baik dan rutin dapat mengurangi emisi gas berbahaya yang dikeluarkan oleh kendaraan. Penggunaan bahan bakar juga menentukan emisi yang dihasilkan. Rancangan mesin dan mcam bensin ikut menentukan akan jumlah pencemar yang timbul. Pembakaran yang tidak sempurna dapat menghasilkan bahan yang tidak diinginkan dan meningkatkan pencemaran udara.

skala global (pencemaran udara seluruh dunia berdampak pada global warming)

Malapetaka di Depan Mata

KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI

Ilustrasi Pemanasan Global

JAKARTA, KOMPAS.com – Malapetaka akibat pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim mengancam semua makhluk tanpa kecuali. Sebagai salah satu upaya menghindarkan petaka tersebut, mulai hari ini, Senin (7/12), utusan lebih dari 190 negara mulai berunding dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark.

Pada Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) Konferensi Perubahan Iklim PBB (UNCCC) ini akan berlangsung negosiasi untuk mencapai kesepakatan baru sebagai pengganti skema Protokol Kyoto yang akan berakhir masa berlakunya pada 2012. Sebanyak 145 negara meratifikasi Protokol Kyoto yang disetujui pada 1997.

Fenomena pemanasan global, menurut pakar agroklimatologi yang juga reviewer emisi karbon negara-negara maju dalam Annex I, Rizaldi Boer, sudah terjadi di Indonesia.

Pendapat senada dinyatakan Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian di Jakarta, Sabtu (5/12).

Menurut Edvin, pemanasan global di antaranya terlihat dari perubahan suhu permukaan di seluruh wilayah di Indonesia.

Berdasarkan data dari BMKG tentang perubahan suhu minimum dan maksimum yang terpantau pada 1980-2002 di 33 stasiun pemantau, kenaikan tertinggi perubahan suhu maksimum di Denpasar, Bali, sebesar 0,087 derajat celsius per tahun. Sementara kenaikan tertinggi perubahan suhu maksimum ada di Polonia, Medan, Sumatera Utara, sebesar 0,172 derajat celsius.

”Besarannya berbeda di setiap kota,” ujar Edvin. Kenaikan suhu merupakan kecenderungan yang sedang dihadapi dunia.

Sejumlah bukti ilmiah menunjukkan, kenaikan suhu global pada abad ke-21 diperkirakan 2-4,5 derajat celsius akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Di Indonesia, perubahan itu terasa pada panjang pendeknya musim hujan atau kemarau. Secara umum, perubahan iklim berdampak pada musim hujan memendek, sebaliknya musim kemarau semakin panjang.

Di bidang pertanian, hal itu berdampak langsung pada hasil panen. ”Gagal panen dalam sepuluh tahun terakhir kian sering,” kata Rizaldi, yang juga dosen sekaligus Direktur Pusat Pengelolaan Risiko dan Peluang Iklim Kawasan Asia Pasifik (CCROM SEAP) IPB.

Dampak kelautannya, iklim ekstrem mengganggu pelayaran dan nelayan karena badai tropis kian sering. Gelombang tinggi juga kian sering mengganggu nelayan. Nelayan sekarang melaut rata-rata tinggal 200 hari setahun dibandingkan dengan 10 tahun lalu yang bisa 365 hari setahun.

”Nelayan harus tambah ongkos alat dan bahan bakar karena ikan-ikan berenang kian dalam,” kata Direktur Pesisir dan Lautan Departemen Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono.

Memendeknya musim hujan berbanding terbalik dengan musim kering. Interval kedatangan El Nino pun kian sering menjadi sekali dalam 3-4 tahun, yang semula 7 tahun rentangnya. El Nino akan diikuti musim kering yang panjang yang berpotensi timbulkan kebakaran hutan.

Malapetaka global

Berdasarkan perkiraan sejumlah ahli, suhu Bumi saat ini meningkat 0,5 derajat celsius dari level 150 tahun silam. Kenaikan akan terus meningkat jika tak ada kemauan negara maju menurunkan laju emisi.

Kenaikan muka laut sudah terasa di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Kota Semarang, Belawan (Medan), dan Jakarta merupakan kota terdampak kenaikan muka laut itu, berkisar 5-9,37 milimeter per tahun pada tahun 1990-an. Berdasarkan skenario Panel Internasional Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC), kenaikan suhu Bumi hingga 6 derajat celsius berpotensi menaikkan muka laut hingga 1 meter pada tahun 2100. Puluhan juta penduduk di seluruh dunia akan terancam migrasi karena banjir, kekurangan air, dan iklim ekstrem.

Kondisi Jakarta

Sementara itu, Jakarta hingga kini masih berpredikat sebagai salah satu kota besar penghasil polusi udara terbesar di dunia. Emisi karbon yang dihasilkan kendaraan bermotor dan industri juga besar. Untuk itu, sejak enam tahun terakhir, Jakarta mulai berbenah.

”Perang melawan dampak buruk perubahan iklim dilakukan dengan dua strategi, yaitu adaptasi dan mitigasi. Adaptasi yaitu bagaimana kita berupaya membenahi lingkungan yang mengalami kerusakan dan mitigasi atau pencegahan,” kata Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Peni Susanti, Minggu.

Menurut dia, beberapa upaya adaptasi, misalnya, dengan penanaman bakau di lahan seluas 344 hektar di pesisir Jakarta Utara, khususnya di kawasan Kapuk. Sementara upaya mitigasi, antara lain, dengan penerapan uji emisi kendaraan bermotor, pemberlakuan hari bebas kendaraan bermotor rutin setiap bulan, kampanye pengelolaan sampah dan mengurangi pembuangan sampah tidak pada tempatnya, serta pembuatan sumur resapan maupun lubang biopori.

Gubernur DKI Fauzi Bowo dalam pertemuan The Asia Pacific Weeks 2009 di Berlin, Jerman, awal Oktober lalu, menekankan, ada banyak hal yang diprogramkan DKI untuk turut melawan dampak perubahan iklim. Program besar yang telah dicanangkan adalah penggunaan bahan bakar gas untuk bus transjakarta dan sebagian bajaj.

Akhir 2009, Jakarta juga menjajaki kemungkinan melebarkan pelayanan bus jalur khusus ke Bekasi dan Tangerang. Pertemuan antarpemerintah wilayah terkait mulai dilakukan. Semua ini dilakukan, kata Fauzi, untuk menyediakan angkutan umum yang nyaman untuk mengurangi emisi karbon.

Perubahan gaya hidup

Anggota Forum Pengembangan Kota Berkelanjutan, Nana Firman, mengingatkan, semua orang sebenarnya berkontribusi pada isu perubahan iklim karena pada setiap aktivitasnya setiap manusia mengeluarkan emisi karbon. ”Mobilitas kita dengan kendaraan itu mengeluarkan emisi karbon karena memakai bahan bakar fosil, bensin. Juga ketika kita membeli barang dan menggunakan barang-barang elektronik. Bahan bakar pembangkit listrik juga bahan bakar fosil, batu bara,” ujarnya.

”Karena kita berkontribusi dan kita menyadari dampaknya, kita harus bertanggung jawab. Untuk itu, kita harus ada niat yang disusul dengan upaya. Upaya ini adalah upaya mengubah perilaku,” ujarnya.

Beberapa perilaku yang bisa diubah demi mengurangi emisi karbon antara lain memilih kendaraan yang lebih kecil emisinya, misal menggunakan kendaraan umum, atau bahkan tanpa mengeluarkan emisi seperti naik sepeda atau jalan kaki.

Ia menyadari, ”Masih banyak PR yang harus dikerjakan karena kesadaran kita bahwa kita berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim masih sangat rendah.”

(GSA/NEL/ISW)
Author:
Editor: jimbon

PEMBAHASAN III

Faktor penyebab :

Pencemaran udara yang terus berlanjut hingga saai ini diberbagai belahan dunia, menyebabkan dampak yang lebih besar bagi keberlangsungan hidup seluruh mahluk hidup dimuka bumi ini. Salah satu dampak dari pencemaran udara yang paling membahayakan adalah terjadinya pemanasan global, yang saat ini sudah mulai terasa efeknya.

Beberapa penyebab pencemaran udara yang tak terkendali didunia yang memicu efek rumah kaca antara lain :

Efek rumah kaca muncul seiring dengan gaya hidup dan aktifitas manusia yang dapat memunculkan emisi gas ke udara. Efek rumah kaca adalah suatu keadaan yang terjadi akibat pemantulan sinar matahari oleh bumi yang tidak dapat diteruskan karena tertahan oleh lapisan polutan berupa gas yang mengambang diatmosfer dan menyelimuti bumi. Gas rumah kaca antara lain CO2, O2, CH4, CFC dan NO2. Gas-gas ini mudah terikat oleh ozon, sehingga menyebabkan lubang ozon yang melindungi bumi dam mahluk hidup didalamnya.

Tingginya tingkat emisi gas terutama dikota besar yang cenderung menggunakan kendaraan pribadi membuat efek rumah kaca semakin cepat dirasakan hampir diseluruh belahan didunia. Seperti yang terjadi di Indonesia ( Jakarta, Semarang, Belawan ) yang sudah harus waspada dengan semakin naiknya permukaan air laut yang akan menyebabkan banjir disebagian wilayah ini. Seperti yang diungkapkan oleh gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di artikel diatas, salah satu langkah yang harus dibenahi adalah pengurangan penggunaan kendaraan bermotor pribadi dan lebih mengutamakan alat transportasi umum untuk menghemat penggunaan bahan bakar fosil yang memicu emisi gas cemaran udara.

Gaya hidup manusia yang tergantung dengan bahan bakar fosil dalam setiap aktifitas kehidupannya. Penggunaan bahan bakar fosil dapat menyebabkan meningkatnya emisi gas buangan yang dapat memicu timbulnya efek rumah kaca. Pembakaran bahan bakar fosil meningkatkan konsentrasi CO2 dibumi, sehingga melampaui tingkat alamiah. Birpun tidak beracun seperti halnya CO, namun CO2 dapat menaikkan suhu bumi.Selain itu industrialisasi di beberapa negara menambah emisi gas pencemar udara. Penggunaan batubara dan minyak bumi dalam industry memberikan banyak CO2 ke udara. Sebaliknya hutan dan lingkungan hijau makin berkurang karena pembangunan jalan dan bangunan.

Semakin banyaknya penebangan hutan dan semakin sedikitnya ruang terbuka hijau dikota-kota besar yang berdampak semakin tidak terkontrolnya pencemaran udara.

Penanganan dan solusi :

Terkait dengan emisi gas yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor, ada beberapa solusi :

  1. Mengembangkan moda transportasi yang familiar dengan lingkungan, yaitu kereta api, tram atau moda sejenis khususnya yang menggunakan enerji listrik seperti KRL di Jabodetabek atau Mass Rapit Transportation (MRT) di Singapura.
  2. Menetapkan kebijakan larangan operasi (pengandangan) terhadap kendaraan dengan emisi gas buang yang melampaui ambang batas, berasap tebal.
  3. Membatasi kepemilikan otomotif per keluarga pada jumlah tertentu, bila melampaui batas kepemilikan dikenakan pajak yang besar.
  4. Membudayakan penggunaan moda angkutan yang bebas pencemaran seperti sepeda dan moda berenerji listrik.

Terkait dengan gaya hidup manusia :

  1. Pengumpulan sampah oleh setiap keluarga, memisahkan antara yang organik dan non organik, sehingga memudahkan pendaurulangan sampah menjadi sesuatu yang berguna. (terapkan 3R)

Sampah organik menjadi kompos (pupuk), sampah non organik (plastik) diolah ulang menjadi bahan plastik yang baru dengan campuran lebih dominan bahan organik.

  1. Tidak melakukan pembakaran sampah dari daun tanaman yang gugur di halaman, tetapi menguburnya berbaur dengan tanah agar dapat digunakan sebagai kompos.
  2. Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan beralih ke energy alternatif yang ramah lingkungan.

Pencegahan :

Seperti halnya pembahasan II artikel sebelumnya tentang pencegahan dari isu yang ada, pencegahan untuk masalah kesehatan lingkungan berskala global ini juga sama. Pencegahan disini dimaksudkan bukan untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala, namun mencegah untuk tidak memperparah keadaan. Pencegahan agar efek pemanasan global tidak semakin parah untuk saat ini dan mendatang. Pencegahan bisa dimulai dari kesadaran individu antara lain :

  1. Hentikan penebangan pohon tanpa melakukan penanaman kembali dan galakkan penanaman pohon.

Telah diketahui bahwa pohon mempunyai banyak manfaat terkait fungsinya dalam mengendalikan pencemaran udara. Emisi gas berbahaya yang dibebaskan ke udara seperti CO, CO2, senyawa timbal dan partikel debu dapat di jerap dan diserap oleh bagian keseluruhan tumbuhan. Sehingga udara sekitar menjadi bersih dan tidak terjadi penumpukan gas tersebut dilapisan atmosfer.

  1. Kurangi menggunakan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan kendaraan umum atau angkutan massal.

Kendaraan pribadi mampu menghasilkan gas NOx, SOx, HC, CO, CO2, dan timbal. Setiap 5 liter bensin yang digunakan oleh kendaraan bermotor mampu menghasilkan 1-1,5 kg CO. Pada pembakaran bensin, timbal akan tinggal diudara 25-50%. Peningkatan jumlah kendaraan dan peningkatan bilangan oktan bensin menambah pencemar timbal diudara. Untuk mengurangi dampak bahaya yang ada alangkah lebih bijak untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan gunakan kendaraan umum.

  1. Tidak membakar sampah atau dedaunan kering, karena dapat meningkatkan gas buangan ke udara.
  2. Batasi penggunaan bahan bakar fosil seperti batubara dan beralih dalam penggunaan bahan bakar alternatif.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Parameter Pencemar Udara dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. 2009.           (online). (http://www.depkes.go.id/downloads/Udara.PDF). (8 Desember     2011).

Eckholm, Erik P. 1983. Masalah Kesehatan Lingkungan Sebagai Sumber Penyakit.            Jakarta : PT Gramedia.

Fandeli, Chafid, dkk. 2004. Perhutanan Kota. Yogyakarta : Fakultas Kehutanan   UGM.

Kastiyowati, Indah. Dampak dan Upaya Penanggulangan Pencemaran Udara. 2008.       (online). (http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp? mnorutisi=8& vno mor          =7). (8 Desember 2011)

Mulia, Ricki M. 2005. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Pohan, Nurhasmawaty. Pencemaran Udara. 2004. (online). (http://library.usu.ac.id            /download/ft/tkimia-nurhasmawaty4.pdf ). (8 Desember 2011).

Sastrawijaya, Tresna A. 2009. Pencemaran Lingkungan. Jakarta : Rineka Cipta.

Soemirat, Juli. 2009. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University             Press.

Referensi Artikel :

Anonim. Warga Tugu Keluhkan Pencemaran Udara Edisi 6 Juli 2010.                 http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/07/06/115742/Warga-         Tugu-Keluhkan-Pencemaran-Udara. (diakses 8 Desember 2011).

Avina Anin Nasia. Sepeda Motor Polusi atau Solusi?.           http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/1216. (diakses 8 Desember   2011)

Jimbon. Malapetaka di Depan Mata. Edisi 7 Desember 2009.             http://www.kompas.com/lipsus112009/gjread/2009/12/07/06555324/Malapeta        ka.di.Depan.Mata. (diakses 8 Desember 2011).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s