waspadai kesehatan reproduksi anda!!!!pria…


Selasa, 3 Agustus, 2004 oleh: gklinis
Pria, Waspadai Kesehatan Reproduksi Anda
Gizi.net – Bawang putih, purwaceng, pasak bumi, dan Ginkgo biloba berkhasiat mengatasi disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi (DE), impotensi, dan kanker prostat. Istilah-istilah itu akrab dengan urusan kesehatan reproduksi pria. Jika tidak mewaspadai penyebabnya, kaum Adam bakal repot menghadapinya. Selain faktor psikis, penyebab masalah tersebut juga berkaitan dengan berbagai penyakit. Di antaranya diabetes mellitus (DM), gangguan ginjal atau gagal ginjal, jantung, dan infeksi menular seksual (IMS). Pada jaringan reproduksi pria organ yang paling sering bermasalah adalah pada kelenjar prostat. Prostat adalah salah satu kelenjar saluran reproduksi pria yang terletak di antara kantong kemih dan saluran kemih keluar (uretra) dan mengelilingi saluran uretra. Fungsi prostat adalah memproduksi cairan yang ikut bercampur pada air mani. Gangguan prostat bahkan bisa menyebabkan kematian bagi penderitanya.

Penyakit-penyakit pada prostat antara lain radang prostat (prostatitis), pembesaran prostat jinak (BPH), dan kanker prostat. Radang prostat bisa menimpa pria dewasa muda (30-45 tahun). Gejalanya berupa rasa tak enak pada perut bagian bawah atau selangkangan. Penyebabnya kuman, makanan, hingga ke unsur psikologis (pikiran). Radang ini bisa menahun. Menurut Prof DR Dr Doddy M Soebadi SpB SpU-K dari Bagian Urologi RSU Dr Soetomo Surabaya, mulai usia 35 tahun prostat secara perlahan-lahan akan bertambah besar (BPH). Ketika usai pria semakin tua prostat dapat berubah menjadi keganasan, seperti karsinoma prostat (ca-prostat). ”Semua keluhan yang berasal dari prostat biasanya disebut sebagai keluhan saluran kemih bagian bawah, yang dahulu dikenal sebagai prostatisme. BPH terjadi seperti halnya rambut menjadi putih,” jelas Doddy.

Disfungsi ereksi
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti yang dikemukakan oleh 1st International Consultation on ED pada 1999 di Paris, yamh dimaksud disfungsi ereksi (DE) adalah ketidakmampuan seorang pria, baik secara konsisten atau berulang, untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk bisa melakukan hubungan intim yang memuaskan. Kira-kira 52 persen pria berusia 40-70 tahun menderita DE, mulai dari ringan hingga berat. Begitu laporan Massachusets Male Aging Study (MMAS).

Sementara menurut Dr Hady Syarif dari Bayer HealthCare, kasus DE sebenarnya sangat banyak terjadi. Kembali terungkap dari data MMAS, 152 juta pria di dunia diperkirakan menderita gangguan keperkasaannya (impotensi). Angka itu diperkirakan akan membengkak pada 2025 menjadi 322 juta penderita impotensi. Sebanyak 100 juta di antaranya pria di Asia. Meskipun penderita DE banyak sekali, para ahli kesehatan memperkirakan hanya 15-20 persen pria penderita DE tersebut yang bersedia berobat. Dengan meningkatnya jumlah penderita diabetes tiap tahun, terutama di negara berkembang, jumlah penderita DE pun akan bertambah. Karena itu, pola hidup sehat sangat dianjurkan sebagai usaha pencegahan DE.

Pengobatan
Banyak obat-obatan yang diyakini masyarakat dapat mengatasi DE. Mulai dari yang dijual bebas maupun melalui pasar gelap. Ramu-ramuan tradisional merupakan salah satu yang diyakini oleh masyarakat dapat dipakai sebagai obatnya. Tentu saja ramuan dan cara tradisional juga memerlukan pengujian klinis agar aman digunakan. Namun, secara medis dunia kedokteran hanya mengenal empat lini pengobatan DE.

Yakni, dengan terapi oral, terapi intra-uretral, terapi injeksi intra-kavernosa, dan pemasangan protesa penis. Semua terapi itu harus mendapatkan pengawasan khusus dari dokter. Beberapa tahun terakhir ini di negara-negara barat ada obat yang populer digunakan. Obat oral berbahan aktif bahan kimia sintetis sildenafil sitrat ini banyak dipakai untuk mengatasi gangguan DE di seluruh dunia. Daya kerjanya langsung ke syaraf-syaraf di sekitar organ genital pria. Karena itu, beberapa saat setelah mengkonsumsi obat yang berfungsi sebagai erektogenik ini, penderita DE akan langsung merasakan hasilnya. Sayang, ada beberapa efek samping yang dilaporkan. Antara lain, sakit kepala, kulit kemerahan, gangguan penglihatan, hidung buntu, dan sakit otot.

Afrodisiaka
Sementara itu, masyarakat telah lama menggunakan beberapa tanaman untuk meningkatkan fungsi seksual. Tanaman itu memiliki efikasi (keampuhan) sebagai obat pada fitofarmaka. Kini efikasi beberapa tanaman itu telah diteliti oleh beberapa dokter di Indonesia. Mereka adalah Prof Dr dr Wimpie Pangkahila Sp And FAACS pakar andrologi dari Universitas Udayana Denpasar dan Prof Dr dr Arif dimoelja Sp And MSc, pakar andrologi dari FKU Universitas Hangtuah/RS pendidikan Angkatan Laut Surabaya. Menurut Prof Wimpie, cara kerja tanaman obat pada perbaikan fungsi ereksi berbeda dari obat kimia.

Tanaman obat bekerja memperbaiki imunitas tubuh, dan membangkitkan rangsang pada sistem syaraf pusat yang juga memperbaiki sirkulasi darah, lalu akan membangkitkan kesegaran tubuh dan mendorong gairah seksual, serta akhirnya fungsi ereksi membaik. Prof Arif menemukan beberapa tanaman obat yang memiliki fungsi afrodisiaka atau pembangkit gairah erotis (obat erogenik atau sex arousal agent. Di antaranya bawang putih digolongkan sebagai afrodisiaka karena sifatnya yang menurunkan kadar kolesterol dalam darah sehingga secara tidak langsung dapat melenturkan pembuluh darah dan memperbaiki kelenturan pembuluh darah. Dengan begitu akan terjadi perbaikan lenturan pembuluh darah fungsi vaskuler, baik di otak, jantung, dan dalam organ genital pria. Salah satu tanaman yang memiliki khasiat mengatasi DE, ungkap Prof Arif, adalah Pimpinella pruacen, tanaman obat yang banyak tumbuh di pegunungan Dieng Jateng. Masyarakat Jawa lazim menyebutnya purwaceng. Senyawa aktif yang terkandung dalam tanaman ini memberikan efek memberi rasa hangat pada tubuh serta meningkatkan emosi.

Berikutnya adalah tanaman pasak bumi (Eurycoma longifolia). Tanaman ini banyak ditemukan di Kalimantan, Sumatera, dan Malaysia. Pasak bumi juga bersifat afrodisiaka karena bahan aktif eurycomanol yang dikandungnya. Ada pula Ginkgo biloba, tanaman yang banyak dijumpai di Amerika dan mengandung bahan aktif 9-6ginkgobiloba flavanoid glycoside. Tumbuhan ini bermanfaat memperbaiki peredaran darah perifer maupun peredaran darah otak yang akan menciptakan rangsang erotik lebih bai. Ini akan membangkitkan libido melalui susunan syaraf pusat dan otonom sehingga memroduksi penghantar syaraf (neurotransmitter) nitrit oksida (NO). NO merupakan syarat utama untuk terjadinya relaksasi otot polos dalam korpus kavernosum yang diperlukan untuk membangkitkan ereksi.

Agar Tidak Disfungsi Ereksi

Penderita diabetes mellitus (DM) berisiko 2-5 kali lebih rentan menderita disfungsi ereksi (DE) atau impotensi dibandingkan pria yang sehat. Pria penderita penyakit ini cenderung mengalami DE 10-15 tahun lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak menderita diabetes. Sebanyak 95 persen pria penderita diabetes akan mengalami impotensi pada usia 70 tahun. Menurut Prof Dr dr Slamet Suyono SpPD-KEMD, dari sub bagian Endokrinologi RSCM Jakarta, banyak orang, terutama pria, tidak menyadari terkena penyakit DM. Disfungsi ereksi bisa menjadi gejala awal dari diabetes. Dan, ternyata sekitar 30 persen pria penderita DE juga mengidap penyakit diabetes.

Di Indonesia jumlah penderita DM terus meningkat dari tahun ke tahun hingga diperkirakan mencapai tujuh juta pasien pada tahun 2020 atau 1,5 persen sampai dua persen dari masyarakat. DM perlu diwaspadai karena bisa menyerang kepada semua golongan usia, semua tingkat sosial ekonomi, dan lelaki maupun perempuan, dan bukan hanya faktor genetik. Namun, masyarakat di kota besar kemungkinan terkena DM lebih besar daripada di pedesaan. Ini akibat gaya hidup modern seperti kurang gerak atau berolahraga, banyak mengonsumsi makanan berkolestrol dan berkadar lemak tinggi. Akibatnya, tubuh jadi mudah gemuk dan rentan menderita diabetes. Dalam kondisi yang kronis (berlangsung lama), keadaan DM menimbulkan berbagai komplikasi. Yang sering terjadi adalah komplikasi pada pembuluh darah. Komplikasi ini disebut angiopati diabetik, yang menimbulkan penyempitan lumen (rongga) pembuluh darah.

Angiopati pembuluh darah yang berakibat penyempitan rongga pembuluh darah akan menyebabkan terganggunya nutrisi oleh pembuluh darah yang bersangkutan. Pengurangan nutrisi pada saraf akan menyebabkan gangguan saraf yang disebut neuropati. Pada penderita DM yang sudah mengalami komplikasi neuropati, tingkat perangsangannya tidak cukup signifikan untuk menghasilkan perubahan. Akibatnya, pengisian pembuluh darah pada jaringan penis yang erektil tidak mencukupi untuk menghasilkan ketegangan (ereksi) penis yang cukup untuk melakukan aktivitas seksual. Disamping itu, penderita diabetes juga mengalami gangguan pembuluh darah atau angiopati yang akan mengganggu aliran darah ke penis. Itulah, mengapa penyakit diabetes menyebabkan disfungsi ereksi.
Sumber : Republika Online – Selasa, 27 Juli 2004 – Penulis : wed


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s