influensa outbreaks : bertindak lebih cepat dan lebih dini


H1N1 saat ini benar-benar telah berkembang out of control—diluar kendali. Jika di awal-awal pemunculannya WHO terus mengupdate perkembangan jumlah kasus dan negara-negara yang terkena, maka saat ini H1N1 telah menyebar dengan begitu rupa dan demikian cepatnya ke banyak negara. Dua orang teman saya menyelidiki 8 cluster (khususnya pondok pesantren di Jawa Timur). Beberapa hari yang lalu saya juga terlibat sebagai co-investigator untuk menyelidiki banyaknya kasus di Gunungkidul, yaitu di Pondok Pesantren Al Hikmah, SD Karangrejek, dan SD Siraman. 70% sampel yang diperiksa positif H1N1.

Sayangnya, masyarakat sering dibuat panik oleh pemberitaan-pemberitaan beberapa media yang kadang kurang dicross chek kebenarannya. Misalnya kabar mengenai banyaknya siswa yang absen di sekolah-sekolah tertentu. Di kota yogyakarta, misalnya, setelah di cross check, ternyata di beberapa sekolah absennya siswa disebabkan karena adanya kegiatan-kegiatan sekolah yang melelahkan atau sakit biasa yang trennya dikatakan sama setiap tahunnya. Itulah bedanya wartawan dengan detektif, hot news getter dengan news getter.

Dalam hal ini, seharusnya institusi kesehatan lebih cepat tahu mengenai informasi-informasi yang penting. Seperti yang dikatakan pak John Sugiyanto (dosen ekonomi), dalam sebuah pertemuan dengan pak Khairul (KaDinkes Kota Yogyakarta), absensi seharusnya bisa menjadi bagian yang penting dalam sistem surveilans penyakit. Di luar negeri yang begitu care terhadap muridnya, jika ada murid yang tidak masuk akan ditelepon dan ditanyakan alasannya. Kini, ketika biaya telepon cukup murah dan hampir semua siswa memiliki setidaknya satu telepon dalam satu keluarga, mengapa hal yang sama tidak dilakukan?

Di sekolah-sekolah dahulu, ada jumlah SIA (sakit, ijin, absen) yang tercatat secara rutin, bahkan di papan tulis yang tergantung di dinding kelas. Tapi sekarang, dalam kunjungan ke sebuah sekolah swasta, untuk mendapat data absensi saja harus menunggu hingga setelah istirahat siang hari. Jika sekolah yang gedungnya bagus pun demikian, bagaimana dengan sekolah-sekolah yang kumis (kumuh dan miskin)? Alangkah baiknya jika di semua sekolah, absensi menjadi hal yang penting dan semua orang bisa mengetahui real time data mengenainya. Jadi, tugas guru UKS bukan hanya melakukan P3K pada saat ada kasus anak sakit, tapi juga ke day to day action.

Berjalannya sistem absensi bisa menjadi bagian penting dari sistem informasi untuk evidence based policy making. Dalam sebuah pertemuan regional, diketahui bahwa sistem informasi Indonesia (analisis, informasi, pertemuan rutin, dll) masih paling jelek. India bahkan telah memiliki disctrict health society.

Saat ini, saya bersama teman-teman FETP (Field Epidemiology Training Program) FK UGM dimintai bantuan untuk mengadakan penyelidikan H1N1 di Kota Yogyakarta. Meskipun belum ada deklarasi KLB, namun aksi kewaspadaan dini memang harus dilakukan. Selain akan menjadi dasar untuk respon cepat, juga untuk menyediakan informasi yang benar kepada masyarakat, agar tetap waspada namun tidak panik. Tujuan kami adalah untuk memetakan faktor risiko dan untuk mengetahui population at risk.

Kami memfokuskan diri pada dua hal spesifik. Pertama, menganalisis data-data surveilans yang telah dihasilkan oleh tenaga surveilans desa. Kota Yogyakarta merupakan satu-satnya Kabupaten/Kota yang memiliki surveilans hingga ke tingkat desa. Mereka memiliki buku tebal laporan yang mereka laporkan secara rutin ke dinas kesehatan tiap bulannya. Para tenaga surveilans kelurahan ini mendapatkan reward sebagai naban (tenaga bantuan) sejajar dengan PTT dan mendapat anggaran dari APBD. Tujuan surveilans kelurahan ini adalah agar bisa dilakukan respon cepat terhadap apapun yang terjadi. Saking sensitifnya, burung yang digigit kucing pun mereka laporkan🙂 Saya belum tahu apakah data-data ini telah diolah dan dimanfaatkan dengan baik. Namun, jika melihat file yang diberikan pada saya, tampaknya belum sesuai dengan maksud pembuatan kuesioner, data tidak memunculkan adanya riwayat kontak, dan banyak data-data yang salah, misalnya ketidak sesuaian antara tanggal sakit dan tanggal munculnya gejala. Mungkin karena tenaga surveilans kelurahan ini datang dari berbagai latar belakang pendidikan. Dalam analisis H1N1, saya juga akan dapat menghadapi kesulitan mengenai penderita positip yang tidak menunjukkan gejala serta inkubasi yang cepat hanya 1 hari. Harapan dari analisis data ini adalah agar kami dapat menemukan determinan spesifik untuk tiap kelurahan, termasuk misalnya faktor sosial ekonomi seperti kemiskinan, dll.

Kedua, kami akan melakukan penyelidikan di sekolah-sekolah, khususnya SMU/SMK, terutama yang berpeluang memiliki kontak dengan luar negeri. Kami akan melakukan review absensi dan mewawancarai anak-anak yang pernah tidak masuk. Untuk tingkat yang di bawah (SD dan SMP) kami akan memberdayakan tenaga surveilans kelurahan untuk memperkaya datanya.

Semoga, pertemuan hari ini dengan kepala-kepala puskesmas dapat berjalan baik dan membuahkan aksi yang tepat dan cepat untuk menghentikan penyebaran dari H1N1 di kota yogyakarta. Tidak perlu menunggu hingga terjadi KLB. Lebih cepat lebih baik. Good luck..***

NB:

  • Jika ada building inspector, maka dalam dunia kesehatan juga seharusnya ada health inspector Yang sama ditakutinya dengan polisi, sehingga kasus-kasus pelaggaran di bidan kesehatan seperti formalin, obat palsu, dll tidak akan ada. Sejauh mana undang-undang kesehatan kita telah berfungsi
  • Hari ini mendapat informasi menarik dari KaDinkes Kota Yogyakarta bahwa ia mendapat kuesioner dari BPS untuk penelitian mengenai dampak krisis global terhadap kesehatan. Pertanyaan mereka adalah dari bulan Mei sampai juli, berapa data hepatitis, vaksinasi, gizi buruk, dll. Terlepas dari baik atau buruknya data yang diberikan, apakah memang kemudian bisa disimpulkan bahwa itu berhubungan/merupakan dampak krisis global? Akan sangat bahaya jika disimpulkan demikian. Semacam kekenesan ilmiah. Ada juga penelitian lain dari lembaga donor asing yang menunjukkan bahwa meneliti yang bukan sesuai dengan bidangnya akan menjadikan hasil penelitian menjadi kurang sempurna.

    Mungkin penelitian BPS di atas analog dengan penelitian mahasiswa yang menemukan adanya hubungan antara kanker serviks dengan pemakaian celana dalam warna pink:-) Mungkin ada kemaknaan statistik, namun adakah kemaknaan secara biologis (biological plausibility), kemasukakalan

source : kesehatan masyarakat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s