bagaimana mengalahkan nyamuk demam berdarah dengue??


Apa arti penelitian bagi Anda? Apakah Anda peneliti atau bukan, hasil-hasil penelitian tetap berguna bagi Anda. Selain untuk menjawab curiousity sang penelitinya, penelitian juga dilakukan untuk memberi kemanfaatan dan solusi bagi permasalahan-permasalahan umat manusia. Termasuk penelitian-penelitian yang diangkat dalam seminar hari ini, “Demam Berdarah Dengue: Pilihan-pilihan Pemberantasan.” Semuanya berangkat dari kenyataan bahwa penyakit Demam Berdarah Dengue masih menjadi musuh bersama. Daerah-daerah di Indonesia tergolong sebagai daerah endemis karena masalah ini terus dihadapi sepanjang tahun, dengan angka kesakitan dan kematian yang cukup tinggi. Oleh karena itu, bagaimana cara untuk mengendalikan penyakit tersebut masih senantiasa dicari.

Penelitian yang pertama di bahas adalah penelitian dari Dana Focks dan teman-teman dari FK UGM yang dibiayai oleh Yayasan Tahija. Dana Focks yang juga wakil dari CDC (Center for Disease Control Amerika) foundation mempresentasikan kegiatan penelitian yang dilakukan dalam bentuk pemberian larvasida (pembunuh larva nyamuk) Pyriproksifen pada 3 targetted container utama yaitu bak mandi, bak air, dan sumur, pada 6 kluster wilayah di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul (200 KK per kluster). Quality Control dilakukan dengan adanya tim pemantau yang senantiasa mengecek keberadaan larvasida di rumah penduduk.

Selanjutnya, dilakukan verifikasi prevalensi penggunaan larvasida, pengumpulan identifikasi pupa dan nyamuk dewasa, serta serosurvey terhadap 300-350 anak-anak untuk mengetahui bukti adanya tansmisi Dengue. Gelombang pertama memberikan kesimpulan positif dengan sedikitnya pupa yang teridentifikasi setelah pemberian larvasida Pyriproksifen tersebut. 84% mati, 3% cacat, dan 13% normal. Gelombang kedua yang belum selesai memberikan hasil yang masih inkonklusif karena adanya daerah kontrol yang memiliki jumlah larva yang sama atau bahkan lebih tinggi.

Dalam sesi diskusi, penelitian ini banyak dikritisi baik oleh Departemen Kesehatan, maupun dari para peserta seminar. Dari aspek metodologis, perlu diperhatikan adanya kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa menjadi confounding factor atau faktor yang mempengaruhi hasil penelitian. Misalnya apakah masyarakat telah membersihkan sendiri container-nya karena budaya merasa tidak enak ketika dikunjungi pemantau, apakah dilakukan juga fogging oleh dinas kesehatan karena berdasarkan serosurvey terdapat kasus Demam berdarah, apakah air dalam container dipakai/diambil secara terus menerus oleh warga, dan lain-lain.

Penulis sepakat dengan pernyataan-pernyataan perwakilan Depkes (Dr Rita Kusriastuti). Pertama bahwa pemberian larvasida hanyalah salah satu pendekatan strategi saja dari berbagai macam strategi dan pendekatan yang digunakan pemerintah dalam penanggulangan Demam Berdarah (termasuk dengan 3M Plus—menutup, menguras, menimbun plus memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala).

Kedua, bahwa sebenarnya tindakan pencegahan dengan pemberdayaan masyarakat untuk bisa “Mandiri” dalam mengatasi masalah Demam berdarah merupakan hal yang utama. Jadi, persoalannya sekarang adalah bagaimana bisa menggerakkan masyarakat dan agar mereka tidak perlu tergantung pada pemberian produk larvasida atau pada kunjungan pemantau.

Selain penelitian di atas, dipresentasikan pula beberapa penelitian lain yang berkaitan dengan Demam Berdarah Dengue, misalnya mengenai penggunaan minyak jarak pagar sebagai larvasida alternatif, Mau atau tidaknya nyamuk menempatkan telurnya pada air limbah detergen, bagaimana efek larvasida Pyriproksifen pada tanaman air, hubungan penularan dengan variabilitas iklim, perbedaan karakter dan faktor penyebaran larva nyamuk di makam modern dan makam tradisional, dan lain-lain.

Yang menarik adalah pengalaman yang dibagi oleh rekan dari Makassar (UNHAS) yang menceritakan keberhasilan mereka untuk menurunkan jumlah kasus Demam Berdarah secara signifikan dari tahun ketahun, hanya dengan mengubah sistem “case based fogging” menjadi fogging mengikuti irama musim hujan. Dengan kata lain, dari “fogging mengikuti orang/korban DBD” menjadi “fogging mengikuti nyamuk” Hal ini berangkat dari dua kenyataan. Pertama, dari kasus-kasus selama ini, peningkatan jumlah nyamuk dan peningkatan jumlah kasus selalu mengikuti kedatangan musim hujan/peningkatan curah hujan. Kedua, bahwa “fogging mengikuti orang” lebih sering terlambat. Kita menunggu ada orang yang sakit dan menunggu rumah sakit membuat laporan ke dinas kesehatan, baru kemudian sang “tukang” fogging datang. Hitunglah ada berapa hari yang terlewati? Bukan tidak mungkin, ketika difogging, virusnya telah tersebar dan berjalan-jalan di tubuh penderita yang lain.

Namun, meskipun terbukti keberhasilannya, penerapan sistem ini belum tentu semudah yang kita kira karena dibutuhkan political will yang kuat untuk membuat perubahan terlebih pada hal-hal yang menyangkut realokasi anggaran. Dari seminar ini, dapat juga ditarik kesimpulan bahwa dalam perjalanan dari penelitian menuju aplikasinya ternyata sering masih terdapat banyak tahapan dan rintangan yang menantang. Namun, aplikasi dari penelitian-penelitian yang bermanfaat bagi kehidupan, tetaplah sebuah keniscayaan.

Akhirnya, dari seminar ini yang disayangkan hanyalah kurangnya penelitian-penelitian yang lebih melihat dan menekankan pada aspek manajemen dan kebijakan pengendalian serta upaya-upaya pemberdayaan masyarakatnya. Insya Allah, saya akan segera melakukannya dalam tesis saya. Lebih cepat lebih baik. Amin. Masak kalah sama nyamuk.

source : public health


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s