MERKURI dan PENAMBANG EMAS TRADISIONAL


LAPORAN

HASIL KUNJUNGAN LAPANGAN

‘PENAMBANG EMAS TRADISIONAL DESA JENDI, SELOGIRI, WONOGIRI’

10 DESEMBER 2011

 1.      Tinjauan Pustaka

Logam merkuri atau air raksa, mempunyai nama kimia hydragyrum yang berarti perak cair. Logam merkuri dengan Hg. Dlam table periodika unsur-unsur kimia menempati urutan (NA) 80 dan mempunyai bobot atom (BA 200, 59). Merkuri telah dikenal manusia sejak manusia mengenal peradaban. Logam ini dihasilkan dari bijih sinabar, HgS yang mengandung unsur merkuri antara 0,1%- 4 %. Merkuri yang telah dilepaskan kemudian dikondensasi, sehingga diperoleh logam cair murni. Logam cair inilah yang kemudian digunakan oleh manusia untuk bermacam-macam keperluan. (Heryando Palar, 2008).

Dalam keseharian, pemakaian bahan merkuri telah berkembang sangat luas. Merkuri digunakan dlam bermacam-macam perindustrian untuk peralatan-peralatan elektrik, untuk alat-alat ukur, dalam dunia pertanian, dan keperluan-keperluan lainnya. Demikian luasnya pemakaian merkuri mengakibatkan semakin mudah pula organisme mengalami keracunan merkuri. ( Heryando Palar, 2008 ).

Dampak dari merkuri adalah dapat mengkibatkan terjadinya keracunan kronis. Keracunan kronis terjadi melalui sistem pernafasan dan makanan yang dikonsumsi dan berlangsung secara perlahan dalam waktu yang panjang. Penderita keracunan biasanya tidak sadar bila terjdi penumpukan jumlah racun didalam tubuhnya sehingga dalam jangka waktu yang panjang tersebut racun tersebut akan bereaksi dengan daya tahan tubuh yang akhirnya menimbulkan sakit ( Heryando Palar, 2008 ).

Pada peristiwa keracunan oleh merkuri ada dua organ tubuh yang paling sering mengalami gangguan, yaitu gangguan sistem pencernaan dan sistem syaraf (Heryando Palar, 2008).

Air raksa atau merkuri atau Hydrargyrum (Hg) merupakan racun sistemik yang akan diakumulasi didalam hati, ginjal, limpa dan tulang. Oleh tubuh Hg diekskresikan lewat urine, feces, keringat, saliva, dan air susu. Keracunan Hg dapat menimbulkan gangguan susunan syaraf pusat (SSP) seperti kelainan kepribadian dan tremor, convulsi, pikun, insomnia, kehilangan kepercayaan diri, iritasi, depresi, dan rasa ketakutan. Gejala gastrointestinal seperti stomatitis, hipersalivasi, colitis, sakit pada mengunyah, gingivitis, garis hitam pada gusi (leadline), gigi mudah lepas, dermatitis dan ulcer. Hg organic cenderung untuk merusak sistem syaraf pusat seperti tremor, ataxia, lapangan penglihatan menciut, perubahan kepribadian, sedangkan Hg anorganik biasanya merusak ginjal dan menyebabkan cacat bawaan ( Juli Soemirat Slamet, 1996 ).

Sistem syaraf pusat adalah target utama dari toksisitas metal merkuri, sehingga menampakkan gejala kerusakan saraf pusat. Gejala yang timbul sebagai berikut :

  1. Gangguan syaraf sensoris  seperti paresthesia, kepekaan menurun dan sulit menggerakkan jari tangan dan kaki, penglihatan menyempit, pendengaran menurun, serta rasa nyeri pada lengan dan paha.
  2. Gangguan syaraf motorik seperti lemah, sulit berdiri, ataksia, tremor, gerakan lambat dan kesulitan berbicara.
  3. Gangguan lain  seperti gangguan mental, sakit kepala dan hipersaliva. ( Zul Alfian, 2006 )

Gejala keracunan akut antara lain seperti kehilangan nafsu makan, berat badan menurun dan shyness. Gejala keracunan kronik ringan adalah erithism, paresthesia, kehilangan daya ingat, insomnia, tremor, dan gingivitis, sweating. Keracunan kronik merkuri organic sangat berbahaya dapat menyebabkan gangguan sistem syaraf pusat (central nervous system). Gejala yang pertama dirasakan antara lain kesemutan, rasa baal pada kulit, jarak pandang mata menyempit, pendengaran berkurang, berjalan limbung, tremor, dan daya ingat berkurang, gangguan fungsi ginjal dan kesuburan, menimbulkn efek membahayakan terhadap otak janin (teratogenik) dan dapat menimbulkan cacat seumur hidup ( Inswiasri, 2008 ).

Acrodynia atau penyakit pink merupakan kram kaki yang parah, iritabilitas dan kulit menjadi merah tidak normal diikuti dengan tangan, hidung, tungkai dan kaki yang mengelupas, gatal, bengkak, denyut jantung meningkat, air liur atau keringat berlebihan, ruam , resah, sulit tidur dan lemah ( Inswiasri, 2008 ).

Acrodynia adalah penyakit yang sering menyerang pada anak-anak usia 4 bulan sampai 8 tahun. Orang dewasa kurang rentan untuk terkena penyakit ini. Acrodynia merupakan penyakit yang ditandai dengan rasa nyeri pada ekstremitas (tangan dan kaki), lesi kulit tangan dan kaki, pembengkakan, gangguan pencernaan, dan gatal-gatal pada tangan dan kaki.

2. Pembahasan Penyakit yang ditemukan dilapangan

Dari hasil pengamatan dan wawancara dengan menggunakan kuesioner ditemukan beberapa keluhan kondisi kesehatan warga. Dalam wawancara yang saya dan kelompok saya lakukan di Jatisari Desa Jendi, Selogiri, Wonogiri kami mengambil 7 orang responden. Berikut hasil temuan dilapangan mengenai keluhan kesehatan dari sampel yang kami wawancara :

Responden

Keluhan Kesehatan

Responden 1 Rasa nyeri dibagian lutut dan punggung
Responden 2 Pusing (kadang-kadang), sakit kepala, rasa nyeri dibagian pinggang, emosian
Responden 3 Pegal-pegal (sering), rasa nyeri dibagian lutut, merasa kaku dan nyeri pada kaki pagi hari setelah bangun pagi, mudah emosi.
Responden 4 Pusing (kadang-kadang), rasa nyeri dibagian lutut, sering merasa kaku dan nyeri dikaki pada pagi hari setelah bangun tidur, pembengkakan di kedua bagian lutut dan berwarna merah.
Responden 5 Sering merasa kaku, sukar melangkah, nyeri dikaki saat pagi hari setelah bangun tidur.
Responden 6 Pusing (kadang-kadang), kaku dan nyeri kaki dan paha saat pagi setelah bangun tidur.
Responden 7 Pusing (kadang-kadang).

Berdasar temuan ini penulis menyimpulkan bahwa tingkat pencemaran karena penggunaan air raksa atau perak sebutan bagi warga sekitar terhadap merkuri sudah sangat mengkhawatirkan. Akibat penggunaan merkuri pada penambangan emas ini telah membuat banyak gangguan kesehatan bagi warga sekitar. Penanganan dalam menangani merkuri yang tidak tepat seperti dengan menggunakan tangan langsung, tanpa menggunakan masker dan alat pelindung diri yang lain membuat gangguan kesehatan semakin parah dirasakan oleh warga penambang tradisional. Dari berbagai macam tanda dan gejala diatas, menunjukan warga telah mengalami keracunan kronis merkuri. Tanda seperti pembengkakan, warna merah di kulit, pusing, nyeri dan kaku pada kaki mengindikasikan gejala terjadinya penyakit Acrodynia. Dari hasil temuan sampel yang kami wawancara 85,71% mempunyai gejala penyakit Acrodynia seperti yang disebutkan diatas. Tingginya persentase ini, dapat disimpulkan bahwa keracunan merkuri sudah banyak terjadi disini. Keracunan merkuri ini diakibatkan oleh banyaknya merkuri yang masuk dalam tubuh melalui proses pernafasan maupun melalui makanan yang terus menerus. Hal ini menjadikan terjadinya penumpukan merkuri dalam tubuh yang melebihi batas toleransi tubuh sehingga gejala-gejala diatas mulai terlihat. Terjadinya gangguan kesehatan warga salah satunya karena warga sekitar yang kurang mempunyai pengetahuan tentang bahaya merkuri. Banyak warga yang menggunakan tangan secara langsung (tanpa sarung tangan) saat mengaduk air yang sudah bercampur dengan merkuri. Selain itu aktifitas warga yang membuang limbah merkuri ini secara sembarangan membuat air sumur dan tanah sekitar juga ikut tercemar. Dengan kondisi yang sudah tercemar seperti ini masih banyak warga yang menggunakan sumur dan juga makan sayur (daun singkong dan keningkir) yang ada disekitar rumah. Dari hasil wawancara yang kami lakukan bahwa di Desa sebelah Jatisari yaitu Desa Nglenggong banyak warga yang sudah tidak bisa mengkonsumsi air didesanya tapi harus menggunakan air aqua yang mereka beli dari luar. Selain air minum ditemukan juga bahwa tak sedikit warga yang mencuci pakaiannya pun diluar desa yang sama sekali belum tercemar limbah merkuri. Inilah yang membuat keracunan kronis seperti penyakit acrodynia banyak dialami oleh warga sekitar terutama Desa Jatisari.

REFERENSI

Alfian, Zul. Merkuri : antara Manfaat dan Efek Penggunaannya bagi Kesehatan    Manusia dan Lingkungan. 2006. (online). (http://library.usu.ac.id/download/e-            book/zul%20alfian.pdf). Diakses Tanggal 13 Desember 2011.

Inswiasri. Paradigma Kejadian Penyakit Pajanan Merkuri (Hg). 2008. (online).             (http://psdg.bgl.esdm.go.id/kolokium/Konservasi/61.%20konservasi%20-    %         20Sangon,%20Yogyakarta.pdf). Diakses Tanggal 13 Desember 2011.

Palar, Heryando. 2008. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta : Rineka          Cipta.

Sastrawijaya, Tresna A. 2009. Pencemaran Lingkungan. Jakarta : Rineka Cipta.

Soemirat, Slamet, Juli. 1996. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Gajah Mada     University Press.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s